4 Aug 2017 Ridhayani Hatta

Terapi Antibiotik sebagai Tambahan untuk Scaling dan Root Planing pada Perokok

Hubungan antara merokok dan kesehatan periodontal telah dijelaskan dalam berbagai studi klinis dan epidemiologi. Berbagai studi tersebut menunjukkan bahwa produk yang berasal dari pembakaran tembakau dapat memodifikasi karakteristik klinis dan perkembangan penyakit periodontal. Rokok juga telah terbukti menjadi faktor risiko utama dalam prevalensi dan tingkat keparahan penyakit periodontal.1,2,3,4

Beberapa penelitian telah menunjukkan kemungkinan penyerapan nikotin di daerah permukaan akar gigi pada perokok yang memiliki penyakit periodontal.5,6 Selain itu, fibroblas yang terpapar nikotin menunjukkan proliferasi, migrasi, dan adhesi yang berkurang pada permukaan akar dan mengembangkan reseptor permukaan yang memungkinkan pengikatan dan internalisasi nikotin dalam sitoplasma.7,8

Nikotin dapat meningkatkan degradasi serat kolagen oleh fibroblas sehingga mengurangi produksi kolagen. Penurunan tekanan oksigen lokal di lingkungan subgingiva dan adhesi bakteri ke sel epitel yang disebabkan oleh tembakau mendorong pertumbuhan patogen periodontal anaerob.9

Perawatan penyakit periodontal didasarkan pada penghilangan bakteri patogen melalui Scaling dan Root Planing (SRP).10 Namun, terapi mekanis kadang tidak efektif dalam menghilangkan bakteri ini, terutama di daerah yang tidak dapat diakses oleh instrumen periodontal.11 Beberapa penulis membenarkan penggunaan antibiotik dengan mengklaim kesulitan dalam menghilangkan patogen subgingival pada perokok dengan SRP.12,13,14Assem, dkk melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis untuk mengevaluasi keefektifan terapi antibiotik sistemik pada perawatan periodontal perokok. Hasil studi ini mendukung keefektifan penggunaan antibiotik sistemik sebagai tambahan dalam perawatan periodontitis kronis pada perokok, karena hasilnya menunjukkan bahwa terapi antibiotik sistemik meningkatkan perlekatan klinis dan berkurangnya kedalaman poket periodontal.15,16

Perkembangan minat dalam hal menentukan terapi periodontal yang paling efektif untuk perokok didasarkan pada fakta bahwa kelompok pasien ini kurang baik dalam merespons terapi mekanis, seperti SRP.17 Walaupun masih belum ada terapi antibiotik sistemik yang diterima oleh konsensus untuk perokok,18,19,20,21 tetapi beberapa antibiotik sistemik atau kombinasi antibiotik telah digunakan sebagai terapi tambahan dalam penanganan periodontitis kronis, seperti penggunaan amoxicillin (AMX), metronidazole (MTZ), doxycycline (DOX), dan azithromycin (AZM).22,23,24,25

Penggunaan MTZ sebagai terapi tambahan, ataupun kombinasi MTZ + AMX, didasarkan pada penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa manfaat klinis dan mikrobiologis dari antibiotik ini baik pada perokok26 maupun non-perokok.27,28,29,30

Penggunaan AZM, yang telah dievaluasi secara ekstensif sebagai tambahan perawatan penyakit periodontal karena memiliki penyerapan oral lebih baik daripada antibiotik lainnya.19 Dalam studi, AZM yang diresepkan dengan dosis satu tablet 500 mg satu kali sehari selama tiga hari sebagai terapi tambahan menunjukkan pembentukan plak yang berkurang hingga tiga bulan, tanda peradangan yang berkurang, dan percepatan respon penyembuhan, akan tetapi tidak signifikan dalam pengurangan kedalaman poket dan peningkatan perlekatan klinis pada perokok berat. Namun, pada daerah yang hanya menerima terapi non-bedah, penggunaan AZM meningkatkan perlekatan klinis secara signifikan.19

Dengan hasil studi tersebut, kita dapat mempertimbangkan bahwa AZM, sebagai monoterapi dengan MTZ atau MTZ yang dikombinasikan dengan AMX berpotensi memberikan manfaat klinis bila digunakan sebagai terapi tambahan untuk perawatan periodontal non-bedah pada perokok. Bila antibiotik berbeda dibandingkan dalam satu penelitian, kombinasi AMX dan MTZ lebih efektif daripada MTZ saja.26

Studi Matarzzo, dkk menunjukkan bahwa kombinasi MTZ + AMX menunjukkan penurunan skor rata-rata dan proporsi patogen periodontal yang signifikan, seperti T. forsythia, P. gingivalis, dan T. denticola, dan peningkatan proporsi spesies yang menguntungkan, seperti A. israelii, A. odontolyticus, dan Veillonella parvula.

Dengan hasil ini, keuntungan lain dari penggunaan antibiotik dalam perawatan mekanis konvensional pada perokok adalah berkurangnya kebutuhan perawatan ulang, yang akan mengurangi biaya. Selain itu, perawatan SRP yang berulang dapat meningkatkan kerusakan jaringan dan mineral gigi dan dapat menghasilkan resesi gingiva yang lebih besar.

Meskipun penggunaan antibiotik pada perawatan penyakit periodontal perokok menunjukkan hasil positif, hal lain yang perlu diperhatikan adalah sikap membatasi penggunaan antibiotik sehubungan dengan meningkatnya perkembangan resistensi antibiotik global.31 Sehingga dokter gigi harus hati-hati dalam meresepkan antibiotik pada pasien terutama terkait dosis, frekuensi, dan penggunaan antibiotik.

 

Sumber:
Assem NZ, Alves MLF, Lopes AB, Junior ECG, Garcia VG, Theodoro LH. Antibiotic therapy as an adjunct to scaling and root planing in smokers: a systematic review and meta-analysis. Braz Oral Res. 2017;31(67):1-12.
Referensi:
  1. https://doi.org/10.1034/j.1600-0757.2002.290109.x
  2. http://dx.doi.org/10.1590/S1806-83242007000500003
  3. https://doi.org/10.1111/j.1600-0757.2010.00340.x
  4. https://doi.org/10.1111/j.1600-0757.2012.00456.x
  5. https://doi.org/10.1902/jop.1989.60.4.176
  6. https://doi.org/10.1902/jop.1989.60.10.564
  7. https://doi.org/10.1902/jop.1991.62.2.147
  8. https://doi.org/10.1177/10454411000110030501
  9. https://doi.org/10.1111/j.1600-0765.2008.01179.x
  10. https://doi.org/10.1902/jop.1993.64.4.243
  11. https://doi.org/10.1902/jop.1988.59.4.222
  12. https://doi.org/10.14219/jada.archive.1997.0259
  13. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.1997.tb00765.x
  14. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.1998.tb02421.x
  15. http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1806-83242017000100951&lng=en&nrm=iso&tlng=en
  16. https://doi.org/10.1902/jop.2016.160268
  17. https://doi.org/10.1902/jop.2007.070118
  18. https://doi.org/10.1902/jop.2005.76.3.426
  19. https://doi.org/10.1902/jop.2007.070072
  20. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.2007.01058.x
  21. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.2008.01304.x
  22. https://doi.org/10.1902/jop.2009.090390
  23. https://doi.org/10.1902/annals.1998.3.1.88
  24. https://doi.org/10.1902/jop.2012.110625
  25. https://doi.org/10.1902/jop.2007.060247
  26. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.2008.01304.x
  27. https://doi.org/10.1034/j.1600-051x.2001.028004296.x
  28. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.2006.01040.x
  29. https://doi.org/10.1111/j.1399-302X.2007.00403.x
  30. https://doi.org/10.1034/j.1600-051X.2002.290410.x
  31. https://doi.org/10.1111/j.1600-051X.2006.00976.x

Gigi dan Mulut Berita Riset dan Terobosan


4 Aug 2017 Ridhayani Hatta