15 May 2019 Gakken Editorial

Saat Konsumsi Makanan Sehat Menjadi Sebuah Obsesi

Mengonsumsi makanan sehat tak selalu berujung baik bagi tubuh. membuat perencanaan makanan, membuat pilihan yang bergizi, tentu sangat dianjurkan. Tetapi, bagi sebagian orang, konsumsi makanan sehat sampai pada sisi yang ekstrim--menyebabkan fiksasi, keasyikan, dan obsesi.

Kondisi itulah yang kemudian dikenal sebagai orthorexia nervosa-- obsesi yang tidak sehat terhadap makanan sehat.

Hingga kini, Sulit untuk menghitung berapa banyak orang yang berjuang dengan orthorexia. Belum ada kriteria diagnostik formal yang dikembangkan, atau alat apa pun yang valid untuk mendiagnosisnya. Namun, itu hanya karena kondisi tersebut relatif baru dalam dunia penelitian maupun wacana gangguan makan, bukan sebagai kondisi yang tidak serius untuk diperhatikan.

Lalu, siapa yang berisiko dan bagaimana orthorexia nervosa hadir?

Para peneliti di Fakultas Kesehatan Universitas York mengatakan mereka yang memiliki riwayat kelainan makan, sifat obsesif-kompulsif, pola makan, citra tubuh yang buruk, dan dorongan untuk menjadi kurus lebih mungkin mengembangkan obsesi patologis dengan makan sehat atau hanya makan makanan sehat.

Dalam tinjauan lengkap pertama dari faktor risiko psikososial yang terkait dengan orthorexia nervosa, peneliti psikologi Universitas York memeriksa semua studi yang diterbitkan hingga akhir 2018 dalam dua database populer. Mereka melihat studi yang meneliti bagaimana orthorexia nervosa terkait dengan faktor risiko psikososial yang mempengaruhi atau membuat individu rentan atau lebih mungkin untuk mengembangkan kondisi tersebut. Mereka kemudian menggabungkan semua temuan yang tersedia untuk setiap faktor risiko dalam mencapai kesimpulan tentang faktor-faktor psikososial yang paling andal terkait dengan kondisi tersebut.

"Dampak jangka panjang dari temuan ini adalah bahwa mereka akan mengarah pada pengakuan yang lebih baik di antara penyedia layanan kesehatan serta anggota masyarakat, bahwa apa yang disebut konsumsi makanan sehat justru mampu menjadi tidak sehat. Hal itu dapat menyebabkan kekurangan gizi atau membuatnya sangat sulit untuk bersosialisasi dengan orang-orang dalam  berbagai interaksi yang melibatkan makanan. Ini juga mahal dan memakan waktu," kata Jennifer Mills, associate professor di Department of Psychology dan penulis senior dalam penelitian ini.

"Ketika menjadi ekstrem, obsesi makan sehat dan bersih bisa menjadi tanda bahwa orang tersebut berjuang untuk mengelola kesehatan mental mereka."

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa tidak seperti individu dengan anoreksia nervosa yang membatasi kalori untuk mempertahankan berat badan yang sangat rendah, orang yang memiliki kondisi orthorexia memiliki fiksasi dengan kualitas dan persiapan makanan daripada jumlah kalori. Lambat laun, mereka menghabiskan jumlah waktu dan upaya yang semakin besar untuk membeli, merencanakan, dan menyiapkan makanan murni dan sehat, yang pada akhirnya menjadi obsesi dan mengorbankan bidang kehidupan lain serta menghasilkan penurunan berat badan.

Salah satu alasan utama untuk melakukan penelitian ini adalah bahwa penelitian saat ini pada kondisi terbatas. Tidak seperti gangguan makan lainnya, seperti anoreksia, bulimia, ortoreksia tidak dikenali dalam buku pedoman psikiatrik standar untuk penyedia layanan kesehatan.

"Sangat mengejutkan bagi saya bahwa sebagian besar artikel di bidang ini memiliki kualitas netral-buruk, menunjukkan bahwa hasil penelitian ini harus ditafsirkan dengan hati-hati," kata Sarah McComb, seorang mahasiswa Master di lab Mills dan pertama penulis penelitian.

"Ini benar-benar menunjukkan desakan untuk adanya alat pengukuran orthorexia yang lebih valid, sehingga kesimpulan yang lebih dapat diandalkan mampu ditarik tentang prevalensi sebenarnya orthorexia dalam populasi dan faktor-faktor psikososial yang benar-benar menempatkan seseorang pada risiko mengembangkan ortorexia nervosa."

Kebiasaan makan lain seperti menjadi vegetarian atau vegan juga menempatkan individu pada risiko lebih tinggi untuk menderita orthorexia nervosa. Lacto-vegetarian memiliki risiko tertinggi untuk kondisi ini dan orang-orang yang memiliki jadwal makan yang ketat, menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkan makanan juga berisiko lebih besar.

Orthorexia Nervosa berkembang dalam dua tahap. Tahap pertama mengadopsi teori tentang mengonsumsi makanan sehat. Kedua, penerapan teori-teori diet yang berubah hampir setiap tahun. Saat ini, teori-teori diet paling populer yang terkait dengan Orthorexia Nervosa adalah makan bersih (clean eating), paleo, vegan, makanan mentah, dan diet eliminasi. Padahal, beberapa teori tentang diet, justru tidak aman. Misalnya, tidak mungkin untuk hidup dengan smoothie buah dan kangkung yang bisa menyebabkan malnutrisi berbahaya karena kekurangan vitamin dan mineral.

Meski, sebagian besar diet yang lebih populer terkait dengan orthorexia dapat dilakukan dengan aman. Masalahnya bagi banyak orang adalah menjalani diet ketat untuk hidup sehat meningkat menjadi pemenuhan perfeksionisme.

Perfeksionisme tersebutlah yang seringkali menjadi pokok persoalan. Orthorexia Nervosa sering juga disebut sebagai "makan yang benar" karena individu akan sering memuji diri sendiri kemampuan mereka untuk “clean eating,” bangga akan kemampuan mereka untuk melawan godaan, dan memuji “diet sempurna” yang mereka lakukan.

Banyak terapis percaya bahwa perasaan superioritas ini memberi individu cara untuk mengatasi krisis kepercayaan diri dan memenuhi ego mereka yang rentan--suatu sifat yang dimiliki banyak orang yang berjuang dengan gangguan makan.

Efek lainnya, seiring waktu, semakin banyak makanan yang harus dihilangkan. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan makanan, menyiapkannya, dan merencanakan makanan. Aturan makan yang dipaksakan sendiri menjadi sulit untuk diikuti, tumbuh menjadi siklus yang diikuti oleh pembersihan dan detoks yang semakin parah. Menjadi sulit untuk makan dengan teman atau kerabat, yang mengarah ke isolasi sosial. Begitu banyak emosi, waktu, dan pikiran yang dikhususkan untuk makan dengan benar sehingga hanya ada sedikit ruang untuk minat lain.

Upaya individu untuk memenuhi kesempurnaan membuatnya terisolasi. Percakapan terbatas, dan ketika terlibat dalam diskusi, umumnya hanya tentang makanan, bahan kimia, kandungan gizi dan sebagainya.

***

Karena orthorexia nervosa bukan kondisi yang dikenali secara klinis, tidak ada protokol pengobatan yang ditetapkan. Rencana pemulihan gangguan makan akan dibuat oleh tim perawatan untuk mendukung setiap individu menuju pemulihan. Jalur ini mungkin dimulai dengan perawatan gangguan makan rawat inap atau perawatan di rumah dan perawatan gangguan makan rawat jalan.

Kunci dari setiap pemulihan adalah menyediakan lingkungan yang aman dan mendukung untuk mengatasi penyebab gangguan, membantu klien mengembangkan keterampilan untuk memerangi pikiran dan perilaku negatif serta menyediakan perawatan medis, kejiwaan, nutrisi dan perawatan klinis seperti:

Psikoterapi: Opsi perawatan yang dirancang untuk memahami dan menantang perilaku negatif dan pola berpikir.

Dialectical Behavioral Therapy (DBT): Pengobatan yang mencakup terapi perilaku, kognitif, dan meditatif.

Obat: Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan obat untuk mengatasi kondisi yang terjadi bersamaan seperti kecemasan atau depresi.

Selain upaya-upaya tersebut, para peneliti mengatakan bahwa mengembangkan definisi yang konsisten dari orthorexia nervosa akan membuat lebih mudah bagi para peneliti kesehatan untuk mengembangkan langkah-langkah yang dapat diandalkan dan memberikan diagnosis dan pengobatan yang lebih baik.

Sumber: Orthorexia nervosa: A review of psychosocial risk factorsAppetite, 2019; 140: 50 DOI: 10.1016/j.appet.2019.05.005

Gizi Psikiatri


15 May 2019 Gakken Editorial