3 Dec 2018 Gakken Editorial

Dua Metode Terbaru Mendeteksi Autisme Dini

Para peneliti di Rensselaer Polytechnic Institute yang dipimpin oleh Juergen Hahn, profesor dan kepala teknik biomedis, terus membuat kemajuan luar biasa dengan penelitian mereka yang berfokus pada gangguan spektrum autisme (ASD). Sebuah makalah baru-baru ini ditulis oleh Hahn dan Jill James dari University of Arkansas untuk Ilmu Kedokteran (UAMS) membahas kemampuan mereka dalam memprediksi kemungkinan ibu hamil berisiko memiliki anak dengan ASD.

Saat ini tidak ada tes untuk ibu hamil yang dapat memprediksi kemungkinan memiliki anak yang akan didiagnosis dengan ASD. Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa jika seorang ibu sebelumnya memiliki anak dengan ASD, risiko memiliki anak kedua dengan ASD adalah sekitar 18,7 persen, sedangkan risiko ASD pada populasi umum adalah sekitar 1,7 persen.

"Namun," kata Hahn, "akan sangat bermanfaat bila prediksi berdasarkan pengukuran fisiologis dapat dibuat untuk menentukan kelompok calon ibu yang berisiko."

Dalam penelitian ini, metabolit dari jalur transmetilasi folen-dependent dan transsulfuration biokimia ibu hamil diukur untuk menentukan risiko memiliki anak dengan autisme berdasarkan profil metaboliknya. Ibu hamil yang pernah memiliki anak dengan autisme dipisah menjadi dua kelompok berdasarkan diagnosis anak mereka apakah anak itu autis atau tidak. Kemudian ibu-ibu ini dibandingkan dengan sekelompok ibu yang belum pernah memiliki anak dengan autisme.

Para peneliti menyimpulkan bahwa perbedaan dalam metabolit plasma adalah indikasi dari risiko relatif (18,7 persen vs 1,7 persen) seorang anak dengan ASD. "Ini adalah hasil yang menarik karena mereka mengisyaratkan perbedaan dalam beberapa proses metabolisme yang berpotensi berperan dalam meningkatkan risiko memiliki anak dengan ASD," kata Hahn.

Penelitian baru ini mengikuti penelitian sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 2017, yang mengembangkan suatu algoritma berdasarkan tingkat metabolit yang ditemukan dalam sampel darah yang dapat secara akurat memprediksi apakah seorang anak berada pada spektrum autisme.

Metode elektroensefalogram (EEG)

Di tempat yang berbeda dengan waktu yang hampir bersamaan, sebuah penelitian dari Boston Children’s Hospital dan Boston University menghasilkan metode diagnosis autisme dini. Berbeda dengan Hahn, dkk, penelitian ini menggunakan alat yang bernama elektroensefalogram (EEG).

Alat EEG tersebut digunakan untuk mengukur aktivitas otak bayi. Dengan begitu, akan terprediksi perkembangan otak bayi jika terkena gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder atau ASD) dan dapat dilakukan saat bayi berusia tiga bulan. Sebelumnya, University of North Carolina telah mengungkapkan bahwa cara akurat dalam memprediksi ASD dengan menggunakan pemindaian fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging). Cara tersebut bisa diterapkan pada bayi usia enam bulan.

Namun, fMRI membutuhkan biaya cukup mahal serta memakan waktu dan sulit dilakukan pada bayi yang masih banyak bergerak. Hal ini yang membuat para peneliti dari Boston ini mencari cara lain untuk mendiagnosa ASD menggunakan alat yang sering digunakan untuk melihat perkembangan anak. “EEG hanya memerlukan biaya yang rendah, non-invasif, dan relatif mudah dilakukan untuk memeriksa bayi,” jelas Charles Nelson, rekan penulis pada studi tersebut.

Proyek penelitian ini dilakukan dengan mengukur 188 bayi menggunakan EEG. Mereka terdiri dari usia 3, 6, 9, 12, 18, 24, dan 36 bulan. Hasilnya, lebih dari setengah bayi dianggap berisiko tinggi terkena ASD (faktor genetik dari kakaknya). Sedangkan 89 bayi lainnya memiliki risiko lebih rendah. Algoritma komputer sebagai media peneliti juga dikembangkan untuk dapat menganalisis secara mendalam. Terdapat enam komponen gelombang yang berbeda dari pengukuran EEG dan didapatkan hasil yang lebih menakjubkan dari sebelumnya.

“Akurasi prediksi kami pada bayi usia sembilan bulan hampir 100 persen. Kami juga mampu memprediksi tingkat keparahan ASD, seperti yang ditunjukkan oleh Skor Keparahan Kalibrasi ADOS, dengan kapabilitas yang cukup tinggi, juga pada usia sembilan bulan,” ungkap William Bosl dari Program Informatika Kesehatan Komputasi (CHIP) di Boston Children's.

Tim peneliti pun mengungkapkan bahwa faktor genetik memengaruhi seorang anak terkena ASD. “Risiko gangguan ini bisa meningkat selain karena genetik, juga karena faktor lingkungan. Namun hal tersebut belum sepenuhnya benar karena empat dari lima ‘saudara kandung bayi’ tidak mengidap autisme,” tambah Nelson.

Hasil dari penelitian tersebut diharapkan bisa mempermudah dokter anak lain dalam mendiagnosis autisme pada bayi sedini mungkin karena dengan EEG sederhana saja sudah mampu memantau pertumbuhan otak dan memungkinkan intervensi dini dalam kasus diagnosis autisme potensial.

Sumber: http://news.rpi.edu/ dan https://vector.childrenshospital.org/2018/05/predicting-autism-eegs/

Berita Riset dan Terobosan


3 Dec 2018 Gakken Editorial