21 May 2019 Gakken Editorial

Penyakit Kulit: dari Kesadaran hingga Terapi Gen

Penyakit kulit berada pada peringkat ke empat sebagai penyakit paling umum yang menjangkiti manusia. Tetapi, banyak orang yang terkena, tidak berkonsultasi dengan dokter. Sebuah Jurnal baru dari Akademi Dermatologi dan Studi Venereologi Eropa memperkirakan prevalensi penyakit kulit di luar pengaturan medis yang khas.

Untuk memasukkan orang yang tidak pernah atau jarang mencari bantuan medis, penelitian ini tidak bergantung pada data asuransi kesehatan, melainkan pada data yang dikumpulkan di Munich Oktoberfest di Jerman. Pemeriksaan skrining dilakukan secara acak pada pengunjung yang berpartisipasi.

Dari 2.701 individu dalam penelitian ini, setidaknya satu kelainan kulit diamati pada 1.662 peserta (64,5 persen). Diagnosis yang paling umum adalah actinic keratosis (26,6 persen), rosacea (25,5 persen), dan eksim (11,7 persen). Penyakit kulit meningkat dengan bertambahnya usia dan lebih sering pada pria (72,3 persen) dibandingkan pada wanita (58,0 persen). Hampir dua per tiga dari peserta yang terkena tidak menyadari temuan kulit abnormal mereka.

"Penyakit kulit mungkin bahkan lebih umum daripada yang diperkirakan sebelumnya. Mengingat dampak signifikannya pada individu, keluarga, dan kehidupan sosial serta beban ekonomi yang berat yang disebabkan oleh perawatan diri atau non-dokter yang tidak memadai, kepentingan kesehatan masyarakat mengenai penyakit kulit kurang diperhatikan," kata penulis senior Dr. Alexander Zink, dari Universitas Teknik Munich. "informasi dan kampanye kesadaran diperlukan untuk mengatasi masalah yang diabaikan ini dengan lebih baik dan mengurangi beban global penyakit kulit."

Faktor Genetik

Sekelompok peneliti telah mengidentifikasi jejak genetis yang umum di antara tiga penyakit kulit langka atau genodermatosis: epidermolisis bulosa distrofi resesif, sindrom Kindler, dan xeroderma pigmentosum. Dalam waktu dekat, temuan ini akan memungkinkan pendekatan terapeutik berbasis bukti yang efisien dan aman.

Melalui analisis ekspresi gen global (transkriptomik), para peneliti dapat menemukan dan mengkonfirmasi jejak genetik yang umum untuk genodermatosis ini dalam sel pasien. Profil ini menargetkan aktivasi seluler dan perubahan lingkungan mikro dermal (lapisan bawah kulit) yang dapat mendukung perkembangan penyakit serta kanker kulit.

Epidermolisis bulosa distrofi resesif dan sindrom Kindler adalah penyakit yang menyebabkan kerapuhan kulit, yang disebabkan oleh mutasi pada gen-gen esensial untuk menempelkan dua lapisan kulit. Pasien dengan penyakit ini menderita erosi kronis dan luka pada kulit dan mukosa, yang menyebabkan berkembangnya jaringan parut dan karsinoma sel skuamosa skuamosa.

Di sisi lain, xeroderma pigmentosum adalah penyakit yang ditandai dengan sensitivitas tinggi terhadap sinar ultraviolet, karena kekurangan dalam mekanisme perbaikan DNA, yang berarti pasien 110.000 kali lebih mungkin mengembangkan kanker kulit.

Studi ini, baru-baru ini diterbitkan dalam British Journal of Dermatology, menyoroti mekanisme molekuler dari penyakit dan menyajikan target farmakologis baru yang berguna untuk pengobatan efek yang terkait. Kemungkinan mengobati pasien secara terapeutik (misalnya, dengan reposisi obat) adalah prioritas klinis untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Terapi Alami untuk Gen

Mutasi gen patogen yang menyebabkan jenis penyakit kulit yang tidak dapat ditangani, dapat dihilangkan dari beberapa bagian kulit pasien seiring bertambahnya usia. Hasil tersebut dari penelitian Universitas Hokkaido dan kolaboratornya di Jepang.

Secara umum, tidak ada metode pengobatan dasar yang mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh kelainan gen karena sulit untuk menghilangkan mutasi genetik tertentu dari semua sel yang terkena.

Loricrin keratoderma (LK) adalah salah satu penyakit tersebut; disebabkan oleh mutasi loricrin, ditandai dengan kulit kering, menebal, bersisik sejak lahir. Hanya perawatan simtomatik yang tersedia untuk meringankan kondisi, yang menyebabkan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari pasien. Sejauh ini, dokter belum mengetahui cara mengobati penyakitnya.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Life Science Alliance, tim peneliti, termasuk Toshifumi Nomura dan Shotaro Suzuki dari Hokkaido University, mengamati kulit pasien untuk waktu yang lama. Mereka menemukan bahwa pasien LK memiliki area kulit yang tampak normal di sekitar tubuh mereka. Jaringan dari daerah-daerah itu diperiksa untuk histologi, dan DNA yang diekstraksi dari epidermis dan dermis diperiksa untuk mutasi loricrin.

Studi ini menemukan area kulit yang terlihat normal sebenarnya kulit yang telah kembali normal dan, yang mengejutkan, loricrin mutan yang seharusnya dimiliki pasien sejak lahir telah hilang. Analisis terperinci dari sekuens DNA mengungkapkan bahwa mutasi telah menghilang karena rekombinasi somatic--sejenis rekombinasi DNA yang menyebabkan pertukaran untai DNA yang mengandung sekuensing yang sama. Kulit normal tetap berada di lokasi yang sama setidaknya selama beberapa tahun, sehingga temuan menunjukkan mutasi gen dihilangkan dari sel-sel induk yang terus menyediakan sel-sel baru di epidermis.

Studi ini juga menemukan bahwa sel-sel dengan loricrin normal memiliki kemampuan reproduksi yang lebih tinggi dan lebih cenderung membentuk koloni daripada sel-sel dengan loricrin mutan. Keuntungan bertahan hidup ini bisa menjadi alasan mengapa sel-sel normal kembali lahir pada kulit pasien.

"Jika kita dapat menjelaskan mekanisme rekombinasi somatik yang sering terjadi dalam sel epidermis, dan dapat menemukan cara untuk mendorongnya secara artifisial, yang dapat mengarah pada pengembangan metode pengobatan baru untuk loricrin keratoderma, dan kemungkinan penyakit genetik lainnya," kata Toshifumi Nomura.

Sumber:

  1. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology, 2019; DOI: 10.1111/jdv.15494
  2. British Journal of Dermatology, 2019; DOI: 10.1111/bjd.17698
  3. Life Science Alliance, 2019; 2 (1): e201800284 DOI: 10.26508/lsa.201800284

Genetika


21 May 2019 Gakken Editorial