28 Nov 2017 Ridhayani Hatta

Pendekatan Terbaru Penanganan Lesi White Spots

Bukti klinis paling awal dari proses demineralisasi dapat diketahui dengan ditemukannya white spots pada permukaan gigi. White spots merupakan tanda awal terjadinya karies, yang merupakan area putih buram dan berkapur yang hanya bisa terlihat dengan jelas pada permukaan gigi yang kering.

Saat ini, prevalensi lesi white spots yang lebih tinggi kebanyakan ditemukan pada pasien ortodontik cekat. Richter dkk.1 menemukan bahwa 72,9% dari 350 pasien ortodontik komprehensif terdeteksi memiliki lesi White Spots. Boersma dkk.,2 dengan metode fluoresensi induksi cahaya, menemukan bahwa 97% dari 62 pasien tampak memiliki lesi white spots setelah perawatan ortodontik selesai. Selain itu, lesi white spots juga dapat terjadi karena adanya fluorosis, hipoplasia, hipokalsifikasi, erosi dan tetrasiklin stain.

Lesi white spot adalah tanda awal demineralisasi di permukaan email dan awal perkembangan karies gigi. Lesi white spot terbentuk karena asam organik yang dihasilkan oleh bakteri patogen yang merusak kandungan mineral, seperti ion kalsium dan fosfat pada lapisan email yang gagal melakukan proses remineralisasi.3

Penanganan Lesi White Spots

Penanganan lesi white spot merupakan topik penting dalam kedokteran gigi. Meskipun ada beberapa cara untuk menangani lesi white spot, kebanyakan dari metode tersebut merupakan pendekatan topikal berupa penggunaan bahan remineralisasi, seperti pasta CPP-ACP (casein phosphopeptide-amorphous calcium phospate), Novamin (calsium sodium phosphosilicate), atau pasta fluoride.4

Selain itu, untuk mengatasi lesi white spots yang agak parah, umumnya dilakukan pendekatan invasif yang terdiri atas pendekatan prostetik dan restoratif, misalnya veneer, laminasi atau mahkota. Namun berdasarkan beberapa percobaan klinis, pendekatan terbaru yang diianggap efektif saat ini untuk mengatasi lesi white spots adalah teknik minimal invasif seperti teknik mikroabrasi dan infiltrasi resin.4 Pendekatan ini menjadi pilihan pertama dokter gigi dalam merawat pasien dengan lesi white spots.5 Ilustrasi ringkas untuk penanganan lesi white spots ditunjukkan pada diagram di bawah ini.

 

bagan

Diagram 1. Penanganan Lesi White Spots

 

Untuk perawatan dengan bahan remineralisasi topikal, pengaplikasiaan bahan dapat dilakukan langsung oleh dokter gigi maupun oleh pasien sendiri di rumahnya. Akan tetapi, kekurangan dari perawatan ini umumnya hanya diindikasikan untuk lesi white spots yang kecil.

Lain halnya dengan perawatan invasif, sesuai dengan namanya, teknik ini memerlukan pembuangan struktur gigi pada daerah lesi yang tidak jarang dibutuhkan pembuangan struktur gigi sekitarnya yang masih sehat. Kekurangan dari pendekatan ini, karena bertentangan dengan asas perawatan gigi yang harus menjaga struktur gigi semaksimal mungkin. Dalam kasus white spots yang cukup luas, perawatan ini sangat andal karena memberikan hasil perawatan dengan perubahan yang signifikan. Namun, perawatan ini sebaiknya menjadi pilihan terakhir dalam menangani kasus lesi white spots.

Prosedur Mikroabrasi

Mikroabrasi enamel adalah salah satu perawatan konservatif yang menjadi pilihan pengobatan yang menjanjikan dibanding pendekatan lain untuk menangani lesi white spots. Murphy dkk.6 membuktikan tingkat keberhasilan mikroabrasi enamel dalam mengurangi lesi white spots mencapai 83%.

Saat ini, asam fosfat (H3PO4) 35% dengan pumice atau penggunaan asam klorida (HCl) 6,6% dengan silika adalah bahan mikroabrasi yang paling umum digunakan dalam perawatan. Metode perawatan ini yaitu bahan mikroabarasi diaplikasikan pada permukaan lesi selama 30 detik lalu dibilas dengan air, kemudian dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali dengan interval 60 detik, dilanjutkan dengan aplikasi pumice ataupun silika.7 Studi8,9 merekomendasikan untuk memperhatikan kedalaman lesi dan mempertimbangkan prognosis prosedur mikroabrasi yang dipilih untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Infiltrasi Resin

Infiltrasi resin diperkenalkan sebagai teknik minimal invasif terbaru untuk perawatan lesi white spots. Prosedur ini meliputi proses etsa dan light-curing. Tujuan perawatan ini adalah untuk mencegah perkembangan karies lebih lanjut dengan menginfiltasikan resin secara cepat ke dalam enamel dan bertindak sebagai plugger microporositas.10 Tahapan prosedural dari pendekatan ini diilustrasikan pada gambar 1 di bawah ini.

 

Picture1

Gambar 1. (A) Lesi white spots yang belum dirawat; (B) setelah profilaksis awal dengan pumice dan air, diamong bur taper yang halus digunakan untuk menghilangkan lapisan superfisial pada lesi di enamel; (C) Gigi diisolasi dengan rubberdam; (D) Bahan etsa (asam posfat 35%) diaplikasikan pada permukaan enamel selama 30 detik, kemudian gigi dibilas dengan air; (E) Aplikasi bahan resin yang akan diinfiltrasikan; (F) Proses polimerisasi dengan LED light-cure; (G) Setelah proses polishing. (Sumber: Sundfeld et al, 2014)7

 

Studi11,12 menunjukkan keampuhan metode ini terlihat jelas pada hasil estetika yang lebih baik dan menghentikan perkembangan lesi white spots. Infiltrasi Resin sebagai teknik invasif minimal pada perawatan white spots memiliki keuntungan menghilangkan defek dengan menghasilkan warna yang sama dengan enamel gigi sehat.13

 

 

Referensi:

  1. Richter AE, Arruda AO, Peters MC, Sohn W. Incidence of caries lesions among patients treated with comprehensive orthodontics. Am J Orthod Dentofacial Orthop 2011;139:657‑
  2. Boersma JG, van der Veen MH, Lagerweij MD, Bokhout B, Prahl‑Andersen B. Caries prevalence measured with quantitative light‑induced fluorescence after treatment with fixed orthodontic appliances: Influencing factors. Caries Res 2005;39:41‑
  3. Shivanna V, Shivakumar B. Novel treatment of white spot lesions: A report of two cases. Journal of conservative dentistry: JCD. 2011;14(4):423.
  4. Kim HJ, Karanxha L, Park SJ. Non-destructive management of white spot lesions by using tooth jewelry. Restorative Dentistry & Endodontics. 2012 ;37(4):236-9.
  5. Son JH, Hur B, Kim HC, Park JK. Management of white spots: resin infiltration technique and microabrasion. J Korean Acad Conserv Dent. 2011;36:66-71.
  6. Murphy TC, Willmot DR, Rodd HD. Management of postorthodontic demineralized white lesions with microabrasion: a quantitative assessment. Am J Orthod Dentofacial Orthop. 2007;131:27-33.
  7. Sundfeld RH, Sundfeld-Neto D, Machado LS, Franco LM, Fagundes TC, Briso AL. Microabrasion in tooth enamel discoloration defects: three cases with long-term follow-ups. Journal of Applied Oral Science. 2014;22(4):347-54.
  8. Torlakovic L, Olsen I, Petzold C, Tiainen H, Øgaard B. Clinical color intensity of white spot lesions might be a better predictor of enamel demineralization depth than traditional clinical grading. Am J Orthod Dentofacial Orthop2012;142:191-198.
  9. Reston EG, Corba DV, Ruschel K, Tovo MF, Barbosa AN. Conservative approach for esthetic treatment of enamel hypoplasia. Oper Dent. 2011;36:340-343.
  10. Gugnani N, Pandit IK, Gupta M, Gugnani S, Soni S, Goyal V. Comparative evaluation of esthetic changes in nonpitted fluorosis stains when treated with resin infiltration, in‐office bleaching, and combination therapies. Journal of Esthetic and Restorative Dentistry. 2017;29(5):317-24.
  11. Doméjean S, Ducamp R, Léger S, Holmgren C.Resin infiltration of non-cavitated caries lesions: a systematic review. Med Princ Pract.2015;24(3):216–21.
  12. Gugnani N, Pandit IK, Gupta M, Josan R.Caries infiltration of noncavitated white spot lesions: a novel approach for immediate esthetic improvement. Contemp Clin Dent.2012;3(2):S199–S202.
  13. Shivanna V, Shivakumar B. Novel treatment of white spot lesions: a report of two cases. J Conserv Dent. 2011;14:423-426.

 

Gigi dan Mulut Berita


28 Nov 2017 Ridhayani Hatta