10 Nov 2016 Triana Istiqlal

Pedoman Pencegahan Infeksi Luka Operasi

Infeksi luka operasi adalah salah satu infeksi terkait pelayanan kesehatan yang paling mudah dicegah, namun tetap merupakan masalah klinis yang signifikan akibat kaitannya dengan mortalitas dan morbiditas dan peningkatan kebutuhan sumber daya pelayanan kesehatan. Hal ini terjadi akibat bakteri yang masuk melalui insisi yang dibuat saat operasi. Untuk pencegahannya, WHO mengeluarkan pedoman terbaru untuk menghentikan infeksi pasca operasi dan mencegah resistensi antibiotik.

Global Guidelines for the Prevention of Surgical Site Infection, yang baru-baru ini dirilis oleh WHO dan diterbitkan di jurnal The Lancet Infectious Diseases, ditujukan untuk mengurangi peningkatan beban global penyakit infeksi terkait pelayanan kesehatan, lebih spesifiknya, infeksi luka pasca operasi. Infeksi luka operasi adalah infeksi terkait pelayanan kesehatan yang paling banyak diteliti dan ditemukan pada negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Pedoman ini terdiri dari 29 daftar rekomendasi yang disusun oleh 20 ahli terkemuka dunia dari 26 tinjauan perkembangan terbaru.

Infeksi luka operasi dapat mengenai situs insisi atau jaringan yang lebih dalam. Hal ini dapat mengancam nyawa jutaan pasien setiap harinya dan berkontribusi pada penyebaran resistensi antibiotik. Pada banyak infeksi luka operasi, patogen yang menjadi penyebab adalah flora normal yang berasal dari tubuh pasien sendiri. Patogen yang paling sering ditemukan adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus berjenis koagulase negatif, Enterococcus Spp., dan Escherichia coli.

Banyak dari rekomendasi ini yang telah ada sebelumnya, dan semuanya sama pentingnya dalam pencegahan infeksi. Rekomendasi baru ini diharapkan menarik perhatian pekerja kesehatan untuk mengubah praktik sehari-harinya mengenai tatacara pencegahan infeksi luka operasi untuk menyelamatkan pasien. Contohnya, pasien seringkali masih dicukur sebelum operasi – praktik tersebut harus berhenti dilakukan berdasarkan rekomendasi pedoman oleh WHO ini.

Pre-operatif

  • Pasien direkomendasikan untuk mandi sebelum operasi–dengan sabun biasa atau antibakteri. Hal ini dilakukan untuk memastikan kulit sebersih mungkin, dan untuk mengurangi jumlah bakteri, terutama pada lokasi insisi.
  • Direkomendasikan untuk tidak mencukur rambut pada bagian tubuh pasien yang akan dioperasi. Jika sangat diperlukan, disarankan untuk menggunakan pemotong rambut, bukan mencukurnya sampai habis, karena dapat meningkatkan risiko infeksi akibat trauma mikroskopik terhadap kulit.
  • Antibiotik profilaksis diberikan dalam jangka waktu 120 menit sebelum insisi, sambil memperhitungkan paruh-waktu dari antibiotik yang diberikan.
  • Cairan antiseptik berbasis alkohol yang mengandung chlorhexidine glukonat untuk lokasi insisi pada kulit pasien yang akan dioperasi.

Intraoperatif

  • Direkomendasikan untuk membatasi jumlah orang di dalam ruangan operasi, dan untuk menjaga sterilnya ruangan dengan juga membatasi seringnya pintu operasi dibuka dan ditutup.
  • Telah menjadi sebuah standar untuk memastikan bahwa segala alat yang digunakan di dalam ruang operasi dan alat operasi tetap steril sebelum dan saat digunakan.

Post-operatif

  • Administrasi dari antibiotik profilaksis tidak disarankan untuk diberikan lebih lanjut setelah operasi selesai. Bukti dari 44 penelitian dengan metaanalisis menunjukkan bahwa pemberian lanjutan antibiotik profilaksis setelah operasi tidak memberi manfaat untuk menurunkan infeksi luka operasi, jika dibandingkan dengan dosis satu kali pada fase preoperatif. Rekomendasi ini mengarah ke reduksi biaya akibat dari berkurangnya penggunaan antibiotik. Hal ini juga dilakukan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik.
  • Direkomendasikan untuk tetap menggunakan balutan luka standar pada luka primer yang sudah tertutup. Pembalut luka yang lebih canggih harganya lebih mahal dari pembalut luka standar, dan ketersediaannya rendah pada negara-negara berpendapatan rendah dan sedang. Munculnya infeksi luka operasi harus senantiasa diamati.

Walaupun pedoman ini mencakup seluruh pasien bedah dari segala usia, beberapa rekomendasi tidak berlaku pada populasi pediatrik karena kurangnya bukti atau kurangnya kegunaan pada populasi tersebut, dan hal itu dinyatakan secara jelas pada pedoman ini.

Sesuai dengan prosedur perkembangan pedoman WHO, rekomendasi-rekomendasi ini akan kembali diulas dan diperbaharui mengikuti identifikasi bukti-bukti studi terbaru paling tidak setiap lima tahun. Pedoman ini dirilis oleh WHO, dan The Lancet Infectious Diseases, dimana aksesnya terbuka secara umum dan dapat Anda unduh di sini.

Infeksi-2-1-307x1024.jpg

Berita


10 Nov 2016 Triana Istiqlal