11 Oct 2019 Gakken Editorial

Panduan Baru Operasi Spina Bifida

Operasi janin untuk spina bifida sangat kompleks. Karena itu membutuhkan pemotongan perut dan rahim ibu, seperti operasi caesar, itu melibatkan pemulihan yang lama, sesuatu yang akan sulit dan penuh risiko. "Operasi terbuka" membawa beberapa risiko kelahiran prematur dan komplikasi selama kelahiran. Risiko terbesarnya bisa saja berua pecahnya rahim.

Selama beberapa dekade, perawatan standar untuk bayi dengan spina bifida adalah operasi setelah lahir: menambal pembukaan saraf tulang belakang. Tetapi, banyak kerusakan dapat terjadi di dalam rahimseti terlalu banyak atau terlalu sedikit cairan serebrospinal di sekitar otak, otak dapat bergerak keluar dari tempatnya, dan saraf yang terpapar dapat rusak.

Kebanyakan bayi dengan spina bifida yang dioperasi setelah lahir membutuhkan pirau seumur hidup untuk mengendalikan pembengkakan otak.

Para dokter sudah lama berpikir mereka bisa melakukan yang lebih baik. Pada tahun 2002, trio rumah sakit AS memulai uji klinis acak, yang dikenal sebagai uji coba MOMS, untuk melihat apakah bayi dengan spina bifida bisa lebih baik jika dioperasi di dalam rahim. Mereka memulainya dengan merawat 200 janin dan menyimpulkan bahwa itu bisa menjadi pilihan yang lebih baik.

Setelah hasil lebih baru diterbitkan pada 2011, operasi janin untuk spina bifida menjadi standar perawatan. Ini adalah prosedur yang sekarang ditawarkan di sekitar selusin pusat medis di sekitar AS, tetapi meningkatkan risiko ibu dan risiko kelahiran prematur. Akibatnya, beberapa orang tua masih memilih untuk menunggu sampai setelah kelahiran untuk beroperasi.

Pada tahun 2014, ahli bedah di Rumah Sakit Anak Texas mulai melakukan operasi perbaikan spina bifida di mana perut ibu dibuka, tetapi rahim tetap utuh. Rahim ditarik keluar dari perut dengan tabung penuh karbon dioksida. Alat bedah endoskopi yang disebut trocar dan kamera mungil kemudian dimasukkan ke dalam rahim melalui lubang kecil.

Namun kini, apa yang telah dimulai pada tahun 2002, kembali dilakukan dengan menyertakan berapa inovai. National Institute for Care Excelence (NICE) memantau dua operasi untuk bayi dengan cacat tabung saraf terbuka--pertama, melibatkan pembedahan membuka rahim untuk melakukan operasi di dalam janin (perbaikan terbuka) dan yang lainnya dilakukan melalui operasi lubang kunci untuk mencapai bayi yang belum lahir.

NICE menunjukkan bukti bahwa operasi terbuka memiliki masalah keamanan yang serius. Meski, tetap diakui mampu bekerja cukup baik selama dilakukan di pusat-pusat khusus, oleh dokter dan tim dengan pelatihan, pengalaman, serta pengaturan khusus untuk tata kelola klinis, persetujuan, dan audit.

NHS Inggris telah mengumumkan rencana untuk mendanai operasi janin terbuka untuk spina bifida bagi mereka yang memenuhi syarat untuk prosedur ini, dengan layanan diharapkan akan beroperasi dalam beberapa minggu mendatang.

Untuk panduan barunya, NICE mengamati dua operasi untuk bayi dengan cacat tabung saraf terbuka--pertama yang melibatkan pembedahan uterus untuk operasi pada janin di dalam (perbaikan terbuka) dan lainnya dilakukan melalui operasi lubang kunci untuk mencapai bayi yang belum lahir.

Profesor Kevin Harris, penasihat klinis untuk Program Prosedur Intervensional di NICE, mengatakan: “Prosedur inovatif ini berpotensi mengurangi gejala yang terjadi akibat spina bifida, meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang mengalami kondisi tersebut.”

Profesor Stephen Powis, direktur medis NHS, mengatakan: "NHS akan menawarkan operasi tulang belakang terbuka untuk spina bifida untuk bayi yang belum lahir dan untuk ibu yang memenuhi syarat hanya dalam beberapa minggu."

Dalam bagian kedua dari panduan, berisi tentang operasi lubang kunci internal yang masih membutuhkan bukti lebih lanjut untuk dikumpulkan, dan hanya boleh digunakan dalam konteks penelitian.

Cacat tabung saraf terbuka terjadi saat bayi berkembang di dalam rahim. Bagian dari tulang belakang tidak menutup dengan benar, meninggalkan celah yang menonjolkan sumsum tulang belakang dan saraf ke bagian luar tubuh. Hal ini menyebabkan bayi dilahirkan dengan spina bifida, yang dapat menyebabkan cacat seumur hidup.

Kedua prosedur bertujuan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada otak, saraf tulang belakang, dan saraf bayi. Tindakan sebelumnya dapat diambil untuk menutupi tulang belakang dengan kemungkinan gejala spina bifida menjadi berkurang.

Sebagai tambahan, praktik saat ini biasanya melibatkan operasi pada bayi dalam waktu 48 jam setelah kelahiran mereka. Opsi-opsi baru ini dapat dilakukan sebelum 26 minggu kehamilan berlalu.

Operasi telah dinilai oleh komite penasehat prosedur intervensi NICE, yang membuat rekomendasi prosedur mana yang dianggap praktik klinis terbaik untuk diterapkan di National Health Service (NHS) di Inggris.

Di Indonesia sendiri, Berdasarkan data WHO SEARO tahun 2010, diperkirakan prevalensi kelainan bawaan di Indonesia sebanyak 59.3 per 1000 kelahiran hidup. 22 persen di antranya adalah kelompok sistem saraf, salah satunya adalah spina bifida.

Sumber: National Institute for Care Excelence (NICE)

Kehamilan / Obstetri Kesehatan Anak


11 Oct 2019 Gakken Editorial