13 Jun 2019 Gakken Editorial

Memprediksi Depresi Pasca Cedera dan Risiko PTSD

Mengatasi efek psikologis dari cedera dapat meningkatkan kesehatan dan mengurangi hasil negatif dari cedera. Namun, menurut survei skala nasional di Amerika Serikat, hanya 7% dari pelayanan trauma yang menggabungkan skrining rutin untuk gejala PTSD.

Cedera, meskipun hadir secara tidak terduga, namun efeknya sering menjadi sesuatu yang akut. Itu dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Setengah dari semua pasien mengalami depresi post-injury dan post-traumatic stress disorder (PTSD) pada bulan-bulan setelah cedera, meningkatkan pemulihan suboptimal, kecacatan, dan biaya perawatan. Untuk pasien perkotaan, beberapa di antaranya telah mengalami trauma sebelumnya, kesulitan masa kanak-kanak dan lingkungan yang tidak menguntungkan, respons stres post-injury akut mampu bertambah buruk.

Sebuah investigasi dari Sekolah Keperawatan Universitas Pennsylvania (Penn Nursing) mengeksplorasi risiko dan faktor pelindung yang berkontribusi terhadap gejala kesehatan mental pasca cedera pada pria perkotaan. Ditemukan bahwa orang-orang dengan cedera kekerasan dibandingkan dengan cedera non-kekerasan memiliki gejala kesehatan mental post-injury yang lebih parah. Tetapi yang penting, itu menunjukkan perlunya mempertimbangkan pengalaman dan pengetahuan mengenai riwayat kehidupan pasien, seperti pengalaman masa kanak-kanak yang merugikan, kerugian lingkungan, kesehatan pra-cedera dan sumber daya psikologis, di samping respons stres akut terhadap peristiwa cedera, untuk mengidentifikasi pasien dengan risiko tertinggi terhadap kesehatan mental post-injury.

"Simpul trauma dan kesulitan hidup sebelumnya, paparan lingkungan yang kurang menguntungkan, serta kesehatan dan fungsi pra-injury yang lebih buruk tidak boleh diabaikan di tengah perawatan cedera akut ketika menilai risiko gejala kesehatan mental postinjury," kata ketua peneliti Therese S. Richmond, PhD, CRNP, FAAN, Profesor Keperawatan Andrea B. Laporte, dan Dekan Asosiasi untuk Penelitian & Inovasi.

Studi tiga setengah tahun ini berfokus pada hasil lebih dari 600 pria kulit hitam perkotaan yang dirawat di rumah sakit karena cedera serius. Para peneliti mengikuti peserta penelitian selama tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit untuk mengakses depresi dan gejala PTSD. Hampir setengah dari peserta penelitian memenuhi kriteria diagnostik untuk depresi dan atau PTSD pada tindak lanjut.

"Studi ini mengambil pendekatan life-trajectory, membantu menginformasikan titik-titik intervensi potensial untuk meningkatkan hasil dan menambah pemahaman tentang kedua faktor risiko, sekaligus perlindungan bagi kelompok yang rentan terhadap cedera," kata Richmond.

"Kita harus mengintegrasikan perawatan psikologis ke dalam esensi perawatan trauma jika kita ingin meningkatkan hasil dari cedera serius. Karena gejala berkembang setelah keluar dari rumah sakit, pengembangan lebih lanjut dan menggunakan instrumen skrining yang dirancang untuk memprediksi perkembangan masa depan terkait masalah kesehatan mental pasca-trauma harus dijamin untuk memfokuskan layanan pada pasien-pasien dengan risiko tertinggi. "

Mengatasi kambuhnya rasa takut

Stephen Maren, Profesor di Departemen Ilmu Psikologi & Otak, baru-baru ini menerbitkan penelitian signifikan tentang dasar psikologis dan saraf dari Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Diterbitkan di Prosiding National Academy of Sciences (PNAS), salah satu jurnal ilmiah yang paling banyak dikutip di dunia, studi ini mengamati area otak yang mengatur emosi, termasuk menghentikan rasa takut begitu bahaya telah terjadi dan berlalu. Faktor-faktor lain, seperti stres, dapat menyebabkan emosi ketakutan yang berhenti untuk kambuh kembali, hal yang seringkali menjadi masalah bagi mereka yang mengalami PTSD.

"Kekambuhan ketakutan merupakan masalah yang signifikan bagi individu yang menderita gangguan terkait stres dan trauma seperti gangguan stres pasca trauma," menurut penelitian tersebut.

Studi Maren meneliti neuron di otak yang menyebabkan kekambuhan rasa takut, dan pengaruh stres pada daerah-daerah yang mengurangi rasa takut di otak. Data ini mengungkapkan wawasan baru ke dalam patofisiologi PTSD, dan mungkin dapat membantu memprediksi dan mencegah kekambuhan rasa takut dengan perawatan yang mengurangi efek stres pada otak.

"Pekerjaan itu menunjukkan bahwa stres meningkatkan aktivitas daerah yang mendorong rasa takut dari prefrontal cortex, sementara pada saat yang sama mengurangi aktivitas di daerah tetangga yang mengurangi rasa takut," kata Maren.

"Pergeseran aktivitas otak ini dapat ditiru dengan meningkatkan aktivitas neuron yang melepaskan neurotransmitter fight-or-flight, norepinefrin. Temuan ini membuka jalan bagi perawatan baru yang mengurangi rasa takut dan kambuh setelah terapi."

Sumber:
1. JAMA Surgery, 2019; DOI: 10.1001/jamasurg.2019.1622
2. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2019; 201814278 DOI: 10.1073/pnas.1814278116

Psikiatri


13 Jun 2019 Gakken Editorial