4 Apr 2017 Ridhayani Hatta

Memilih Bahan Devitalisasi Pulpa

Devitalisasi pulpa merupakan teknik operatif yang paling sering digunakan pada berbagai perawatan untuk gigi yang pulpitis. Hal ini disebabkan karena bahan devitalisasi memberikan efek langsung pada perawatan dan painless.1 Secara umum, pemahaman dokter gigi mengenai bahan devitalisasi pulpa adalah bahan yang dapat mematikan saraf gigi. Penelitian yang dilakukan oleh Walimbe, dkk. menunjukkan bahwa dari 100 orang dokter gigi dan dengan 77% hasil yang efektif dan lengkap yang diterima, sebanyak 56% (42 orang) responden mengaku menggunakan bahan devitalisasi pulpa selama perawatan dan 33% (25 orang) tidak menyadari komplikasi yang dapat ditimbulkan dari bahan tersebut.2

Bahan devitalisasi pulpa dulunya mengandung arsenic trioxide. Bahan tersebut bekerja dengan menyebabkan paralisis pada serabut saraf, destruksi dan dekomposisi akson pada selubung medulla, sehingga menyebabkan vasodilatasi, hiperemi dan hemoragik yang berakibat pada terganggunya sirkulasi dan merusak respirasi sel pada mitokondria, serta kehilangan fungsi vitalnya, bahkan kematian sel akibat keracunan. Sifat toksisitas terhadap vaskular, saraf, dan sel dimanfaatkan dalam klinis sebagai bahan devitalisasi karena bekerja dengan cepat dan kurangnya perdarahan (bleeding) pada pulpa.3

Seiring dengan penggunaan arsenik sebagai bahan devitalisasi pulpa, telah diamati banyak efek samping yang ditimbulkan seperti respon nyeri yang sangat signifikan setelah aplikasi bahan, adanya inflamasi periapikal yang disebabkan karena arsenik, sifat toksik yang tidak dapat dihentikan sehingga bisa menimbulkan lesi periapikal yang rekuren.3

Beberapa laporan kasus juga menunjukkan efek samping penggunaan arsenic trioxide yang tidak hati-hati dapat menimbulkan nekrosis tulang alveolar dan jaringan lunak. Penelusuran oleh Chen, dkk. menunjukkan bahwa nekrosis pada tulang maupun jaringan lunak disebabkan oleh kebocoran (leakage) bahan ke daerah jaringan pendukung gigi yang dicurigai karena ketidakhati-hatian pada saat aplikasi bahan.4

Menanggapi efek samping yang cukup banyak dari bahan arsenik, alternatif lain yang disarankan oleh beberapa peneliti adalah dengan menggunakan bahan devital yang mengandung formaldehide, paraformadehide, atau cresol.2 Bahan-bahan ini memang mematikan saraf lebih lambat dan memberikan efek bleeding lebih banyak dibandingkan dengan bahan arsenik, tetapi memberikan respon nyeri, serta efek toksisitas yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan arsenik. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhen-ya.3

Untuk itu, dokter gigi perlu memperhatikan komposisi utama dari bahan devitalisasi pulpa yang akan dipilih serta mengaplikasikan bahan secara hati-hati karena mempertimbangkan sifat toksisitas dari keseluruhan bahan tersebut agar terhindar dari kemungkinan komplikasi yang tidak diharapkan.

 

Referensi:
  1. Srivastava A, Gupta KK, Tandon P, Ripal J. Necrosis of alveolar bone secondary to endodontic treatment and its management. J interdicip Dentistry [serial online] 2011;1(1):41-4. Available from: http://www.jidonline.com/text.asp?2011/1/1/41/77205.
  2. Walimbe H, Kontham U, Bijle MNA, Wani V, Nankar M, Muchandi S. Knowledge, attitude and practice of devitalizing agents: a survey of general dental practitioners. J Int Oral Health. [serial online] 2015;7(3):12-4. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4385718.
  3. Zhen-ya. Analysis of clinical application of arsenic-free deactivating agent-Depulpin. Life Sci J [serial online] 2013;10(1):2858-60. Available from: http://www.lifesciencesite.com/lsj/life1001/345_B0004life1001_2858_2860.pdf.
  4. Chen G, Sung Po-Ta. Gingival and localized alveolar bone necrosis related to the use of arsenic trioxide paste-two case reports. J Formosan Med Assoc. [serial online] 2014;113(3):187-90. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24630037.

Gigi dan Mulut Berita


4 Apr 2017 Ridhayani Hatta