12 Mar 2019 dr. Muhammad Kamil

Memahami Sekali Lagi tentang Penyakit Kanker

“Cancer is the uncontrolled growth and spread of cells. It can affect almost any part of the body. The growths often invade surrounding tissue and can metastasize to distant sites.” (World Health Organization)

Kanker tak pernah sederhana sebagai satu diagnosis semata. Ada sedih, derita, ketakutan, air mata, nyeri, kehilangan, bangkrut dan banyak kata-kata lain yang dekat dengan kegelapan dari penyakit mematikan tersebut. Khususnya, pada masyarakat kita di Indonesia. Statistik terbaru dari The International Agency for Research on Cancer (IARC) mengestimasi bahwa 1 dari 5 pria dan 1 dari 6 perempuan di dunia akan menderita kanker sepanjang hidup. Jika dibandingkan dengan data pada 2012 yaitu sebanyak14.1juta kasus, jumlah kasus kanker secara global menjadi 18.1 juta kasus dengan 9.8juta kematian di tahun 2018. Merujuk pada data tahun 2012 yang di publikasikan oleh Globocan yang menjadi referensi Kementerian Kesehatan Indonesia. Secara nasional, prevalensi penyakit kanker pada penduduk semua umur di Indonesia tahun 2013 sebesar 1,4‰ atau diperkirakan sekitar 347.792 orang. Merujuk pada data dari BPJS kesehatan RI dalam kurun waktu Januari-Agustus 2018, Kanker menghabiskan kuota sebanyak 2.1 triliun (16%) dari total defisit 12.8 triliun. Menempati posisi kedua setelah penyakit jantung.

Tidak ada seorang pun yang bebas dari resiko kanker. Mungkin kita bisa juga menengok kanan dan kiri, keluarga atau sahabat, atau saudara kita sendiri sudah terdiagnosis kanker. Kanker itu sangat dekat dengan kita sekarang. Saat ini semua peneliti dan kalangan medis sedang berupaya sangat keras untuk menemukan terapi yang efektif,

Khusus untuk di Indonesia, walaupun data di atas bisa jadi acuan untuk studi dan monitoring perkembangan penyakit kanker pada umumnya, tetap ada tempat untuk berasumsi bahwa keterbatasan pengolahan data dan faktor lain bisa menjadikan angka tersebut sebenarnya lebih banyak daripada yang disebutkan. Di balik itu, kemajuan teknologi serta efeknya kepada sistem sosial kehidupan masyarakat seperti asuransi nasional, infrastruktur yang tumbuh, dan banyak faktor lain, menyebabkan angka kasus kanker terkesan semakin tinggi.

Pengetahuan umum mengenai apa itu kanker, dibutuhkan secara urgent untuk semua pihak, baik masyarakat awam, tenaga medis, maupun pemerintah. Kanker adalah salah satu musuh terbesar peradaban manusia saat ini, dan mengenal musuh adalah salah satu syarat mutlak untuk mengelola dan mengalahkannya.

Berbeda dengan tumor jinak, kanker memiliki karakter khusus yaitu ber-metastasis, invasif, dan secara makroskopis tidak memiliki batas yang jelas dengan jaringan normal sekitarnya atau tidak berkapsul. Sampai saat ini lebih dari 100 jenis kanker telah berhasil diklasifikasikan menurut sel asalnya. 85% kanker adalah karsinoma dan sisanya merupakan sarcoma dan adenokarsinoma. Walau secara karakteristik khusus berbeda, namun bia ditarik 10 karakter khusus secara umum mengenai cara kanker membangun ‘kerajaan’nya di tubuh manusia.

[caption id="attachment_3345" align="aligncenter" width="711"] Sumber(dengan modifikasi) dari : Hanahan,D and Weinberg R.A. (2011) Hallmarks of cancer: the next generation. Cell 100, p.646 [/caption]

Skema di atas menggambarkan jalur-jalur kanker untuk mempertahankan diri dengan keluar dari sistem yang sudah ada dalam tubuh manusia.

Sistem homeostatis yang mengakibatkan tubuh kita normal, seperti tumbuh besar secara proporsional, berhenti tambah tinggi setelah usia dewasa, sel-sel tua yang mati diganti sel baru pada epidermis dan sel darah, penyembuhan luka dan lainnya. Homeostatis tadi, oleh sel kanker, dimanipulasi sedemikian rupa hingga mereka berhasil menjadi kerajaan sendiri di tubuh manusia dengan kontrol di luar sistem normal yang seharusnya.

Kanker adalah penyakit di tingkat genom pada tingkat sel.

Pada pelajaran biologi dasar, kita telah diajarkan mengenai bagian terkecil tubuh kita yang memuat informasi dan akan menghasilkan individu yang utuh: gen. sebagai gambarannya, sebuah sel terdiri dari sekitar 3 miliar DNA yang membentuk kelompok gen yang disebut genome. Dan manusia dewasa memiliki setidaknya 10 triliun sel. Setiap sel memiliki fungsi dan kegiatan masing-masing karena semua sel tersebut hidup. Kerusakan /kesalahan sistem salah satu atau sekelompok dari gen pada saat siklus hidup sel , yang bisa dipicu banyak faktor, bisa memicu timbulnya kanker.

Menariknya, hampir semua agen penyebabnya (karsinogen) bisa dihubungkan dengan proses mutasi (mutagen). Kesalahan proses di tingkat DNA ini merupakan proses yang normal dari proses hidup dalam sel, untuk kesalahan tersebut dalam skala minimal, tidak bisa menyebabkan kanker karena manusia memiliki sistem perbaikan DNA secara otomatis. Namun semakin bertambahnya usia, sistem homeostatis di tubuh kita mengalami penurunan salahsatunya dengan menurunnya sistem perbaikan di tingkat DNA yang menyebabkan akumulasi mutasi. Hal ini menjelaskan mengenai mengapa prevalensi kanker meningkat drastis pada abad ini karena angka harapan hidup yang memanjang, hal itu se-paket dengan timbulnya kanker

Hampir semua kanker adalah hasil mutasi di tingkat DNA, mutasi ini tidak diturunkan ke generasi berikutnya. Tetapi hal lain yang mempengaruhi gen ini, yang biasa disebut epigenetik, yang bisa di turunkan ke generasi selanjutnya. Ini yang membedakan kanker dari penyakit keturunan, bahwa kanker terjadi secara somatik dan penyakit keturunan terjadi secara germinal/kongenital.

Kanker tidak hanya timbul pada usia tua, segala usia juga bisa mengalaminya. Ada beberapa faktor sampai saat ini sudah jelas mempengaruhi timbulnya kanker. Lingkungan, fase reproduksi, diet, exercise dan rokok secara langsung mempengaruhi angka kejadian kanker.

Terapi kanker adalah hal esensial yang sangat mempengaruhi output dari penderitanya. Sampai saat ini, terapi konvensional masih menjad protokol utama yaitu terapi bedah dengan tujuan mengangkat jaringan kanker se-optimal mungkin. Tindakan bedah ini memiliki batasan secara mekanik dan tidak mampu dilakukan ke tingkat seluler sampai DNA khususnya untuk karakter metastasis / penyebaran kanker. Hal itu bisa tekan oleh perangkat radioterapi dan kemoterapi konvensional. Sifat dari terapi radioterapi dan kemoterapi konvensional ini bersifat mencegah pertumbuhan (sitostatik) dan bersifat membunuh sel (sitotoksik). Kemoterapi secara umum mengakibatkan efek samping yang bisa menurunkan kualitas hidup si penderita kanker. Hal ini sedikit banyak disebabkan karena index terapi kemoterapi secara umum sangat pendek. Indeks terapi adalah batas dosis yang menimbulkan efek minimal (minimum effect dose) dan batas maksimal (maximum tolerated dose).

Para peneliti di bidang medis saat ini sangat agresif untuk menemukan terapi spesifik diluar terapi konvensional yang dapat mengobati kanker. Ratusan bahkan ribuan uji klinis saat ini sudah berjalan untuk menemukan agen yang paling efektif menekan pertumbuhan setiap jenis kanker yang meski belum memuaskan menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dibutuhkan dana yang amat banyak, waktu yang sangat panjang, pengorbanan dari kerja keras semua pihak juga telah dilakukan dan akan terus berlanjut.

Molecular Biology of Cancer 4th edition (Lauren Pecorino, Oxford, 2016), Coldittz, G.A. et al (2012) Applying what we know to accelerate cancer prevention. Science translational medicine 4:65-71 dan Oeppen,J and Vaupel,J.W.(2002) Broken limits to life expectancy. Science 296:1029-30.

Berita Tumor dan Keganasan


12 Mar 2019 dr. Muhammad Kamil