11 Mar 2019 drg. Ridhayani Hatta

Konsep Terkini Veneer Porselen sebagai Restorasi Estetik

Selama satu dekade terakhir, terjadi kemajuan yang sangat signifikan di bidang restorasi kedokteran gigi. Hal ini berbanding lurus dengan peningkatan pengetahuan dan harapan pasien teradap perawatan gigi estetik yang umumnya diperoleh dari berbagai sumber terutama dari internet. Tentu hal ini juga berdampak langsung pada peningkatan permintaan untuk restorasi estetik.

Telah terjadi perubahan filosofi bagi sebagian dokter gigi yang mengorbankan struktur gigi yang banyak demi memenuhi tuntutan kosmetik yang singkat, terutama pada gigi yang tidak perlu direstorasi atau gigi dengan kebutuhan restorasi yang minimal.

Benar adanya bahwa veneer porselen dapat menjadi pilihan perawatan yang sangat bernilai jika digunakan dengan tepat. Namun, perawatan ini juga sangat sensitif dan memiliki risiko yang cukup besar terhadap bidang oklusal dan struktur gigi.

Dampak yang ditimbulkan pada bidang oklusal, antara lain, kurangnya protective guidance dari kaninus, gigitan dalam, oklusi kelas III, gigitan silang, dan parafungsi. Sedangkan dampak terhadap struktur gigi adalah preparasi yang berlebihan hingga ke dentin, perlekatan dengan restorasi, jaringan gigi yang tidak memadai, dan kerusakan gigi. Kegagalan estetik juga dapat berdampak pada hilangnya vitalitas gigi jika terjadi preparasi yang berlebihan, kesalahan pada proses preparasi ataupun bonding, menyalahi lebar biologis gigi.

Dengan kasus dan pemilihan gigi yang tepat, veneer porselen dapat menjadi restorasi yang sangat sukses. Namun, jika digunakan pada situasi dimana faktor risiko hadir, restorasi ini dapat memberikan tingkat kegagalan yang tidak dapat ditolerir.

Beberapa kasus yang disajikan dalam review yang dilakukan oleh Dominic Hassall, presiden British Academy of Aesthetic Restorative and Implant Dentistry, dapat memberikan gambaran mengenai perawatan veneer poselen.

Kasus di bawah ini (gambar 1 dan 2) merupakan veneer porselen yang baru dipasang. Terdapat kondisi yang menyalahi lebar bilogis dan preparasi dentin yang menyebabkan kehilangan vitalitas gigi 12 sehingga membutuhkan perawatan saluran akar, beberapa veneer mengalami kehilangan ikatan dengan struktur gigi, gigi 11 mengalami diskolorisasi, dan pasien tidak puas dengan tampilan restorasi dengan bentuk flat-square.

Kebutuhan akan penilaian risiko oklusal dan gigi yang hati-hati sangat penting untuk veneer dan prostodontik cekat, perawatan ortodontik pre-restoratif untuk mengoreksi faktor risiko oklusal semakin banyak dipraktikkan, meningkatkan prognosis restorasi serta mengurangi preparasi gigi.

Pada kasus lain (gambar 3 dan 4), pasien sebelumnya telah dirawat dengan veneer pada keempat gigi insisivusnya, yang kemudian terlepas dalam beberapa bulan. Alasannya adalah, karena adanya traumatik gigitan dalam dan kurangnya protective guidance dari kaninus. Hal tersebut mengilustrasikan bahwa faktor risiko oklusal perlu dikoreksi terlebih dahulu sebelum menempatkan restorasi.

Untuk menangani kasus di atas, peningkatan oklusi dilakukan dengan menggunakan ortodontik lingual dan setelah proses pemutihan gigi dilakukan pemasangan retorasi dengan menggunakan E-max crown. Dengan menyisakan sedikit jarak gigitan terbuka (open bite) di daerah anterior tanpa melakukan preparasi tambahan di bagian palatal, maka penempatan restorasi full-coverage dengan prognosis yang lebih baik dapat dilakukan. Hasil restorasinya dapat bertahan hingga lebih dari 10 tahun, sebagaimana diperlihatkan pada gambar 5 di bawah ini.

Menurut Dominic Hassall, kasus restorasi yang melibatkan perawatan ortodontik  dapat meningkatkan fungsi dan memberikan hasil estetik yang lebih baik.

Sumber: https://dominic-hassall-training.co.uk

Tips Kesehatan Gigi dan Mulut


11 Mar 2019 drg. Ridhayani Hatta