7 Jan 2019 Gakken Editorial

Penelitian Terbaru tentang HPV, Alternatif Pengobatan Kanker Serviks

Para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Virginia, telah membuat penemuan tentang Human Papilloma Virus (HPV) yang dapat mengarah pada perawatan baru untuk kanker serviks dan kanker lain yang disebabkan oleh virus.

HPV bertanggung jawab atas hampir semua kasus kanker serviks dan 95 persen kanker dubur. Ini adalah penyakit menular seksual yang paling umum, menginfeksi lebih dari 79 juta orang Amerika. Sebagian besar tidak tahu telah terinfeksi dan bisa menyebarkannya.

"Sekarang ada vaksin untuk HPV, jadi kami berharap insidennya akan berkurang. Tetapi vaksin itu tidak tersedia di seluruh dunia, dan karena sensitivitas agama, tidak semua orang memakainya. Vaksin itu mahal, jadi saya pikir kanker papillomavirus manusia ada di sini untuk tinggal. Mereka tidak akan hilang. Jadi kita perlu terapi baru,” kata peneliti UVA, Anindya Dutta, PhD, dari Pusat Kanker UVA.

HPV dan Kanker

HPV telah menjadi musuh yang keras kepala bagi para ilmuwan, meskipun para peneliti memiliki pemahaman yang kuat tentang kemampuan virus tersebut menyebabkan kanker: dengan memproduksi protein yang mematikan kemampuan alami sel sehat untuk mencegah tumor. Memblokir salah satu protein itu, yang disebut oncoprotein E6, tampak seperti solusi yang jelas, tetapi upaya puluhan tahun untuk melakukannya terbukti tidak berhasil.

Lalu hadirlah Dutta dan rekan-rekannya. Mereka menentukan bahwa virus mengambil bantuan protein yang ada dalam sel kita, suatu enzim yang disebut USP46, yang menjadi penting untuk pembentukan dan pertumbuhan tumor yang diinduksi HPV.

"Ini adalah enzim, dan karena itu adalah enzim, ia memiliki kantong kecil yang penting untuk aktivitasnya, dan karena perusahaan obat sangat pandai memproduksi bahan kimia kecil yang akan menyumbat kantong itu dan membuat enzim seperti USP46 tidak aktif," kata Dutta, ketua Departemen Biokimia dan Genetika Molekul UVA. "Jadi kami sangat senang dengan kemungkinan ini bahwa dengan menonaktifkan USP46 kami akan memiliki cara untuk mengobati kanker yang disebabkan HPV."

Anehnya, HPV menggunakan USP46 untuk aktivitas yang berlawanan dengan apa yang diketahui dilakukan oleh oncoprotein E6. E6 telah dikenal selama lebih dari dua dekade untuk merekrut enzim seluler lain untuk mendegradasi penekan tumor sel, sementara temuan baru Dutta menunjukkan bahwa E6 menggunakan USP46 untuk menstabilkan protein seluler lain dan mencegahnya terdegradasi. Kedua aktivitas E6 sangat penting untuk pertumbuhan kanker.

Para peneliti mencatat bahwa enzim USP46 khusus untuk jenis HPV yang menyebabkan kanker, tidak digunakan oleh jenis HPV lain yang tidak menyebabkan kanker.

HPV, Budaya, dan Diskriminasi

Penggunaan vaksin HPV di seluruh dunia, seperti yang diungkapkan Dutta di bagian pembuka tulisan, banyak dihalangi oleh faktor non-medis, seperti agama dan budaya. Faktor lain yang kerap menghalangi penggunaan vaksin tersebut secara luas adalah pandangan bahwa yang harus menggunakannya hanya perempuan.

Meskipun virus ini paling sering dikaitkan dengan kanker serviks, wanita bukan satu-satunya yang berisiko. Pusat Pengendalian Penyakit memperkirakan bahwa setiap tahun, sepertiga dari 27.000 kasus kanker HPV di AS terjadi pada pria, di mana dapat menyebabkan kanker tenggorokan, lidah, amandel, penis, dan anus.

Lebih dari setengah dari semua orang di AS akan mendapatkan HPV pada titik tertentu dalam hidup mereka. Sebagian besar infeksi hilang dengan sendirinya dalam satu atau dua tahun. Tetapi beberapa di antaranya bertahan dan, jika tidak diobati, dapat menjadi kanker.

Studi menunjukkan bahwa kanker tenggorokan dan mulut terkait HPV sedang meningkat di AS, dan dapat melebihi jumlah kanker serviks terkait HPV pada tahun 2020.

Banyak dari kanker ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Tetapi terlepas dari rekomendasi Centers for Disease Control bahwa anak laki-laki dan perempuan usia 11 hingga 12 harus menerima vaksin HPV, hanya 37 persen anak perempuan dan 14 persen anak laki-laki di AS telah menerima ketiga suntikan dalam seri vaksin HPV — jauh lebih rendah daripada proporsi yang dibutuhkan untuk menjaga penyakit tetap terkendali.

“Jika 100 orang tua ditawari vaksin HPV untuk anak-anak mereka,” kata Evan Myers, profesor kebidanan dan ginekologi, "Beberapa akan bersedia agar anak mereka divaksinasi tanpa pertanyaan, beberapa tidak akan membiarkan anak mereka divaksinasi dalam keadaan apa pun, dan sisanya akan berada di antaranya."

Padahal, vaksinasi terhadap anak laki-laki, akan lebih memurahkan biaya vaksin yang selama ini cukup tinggi. Meski data menyeluruh tentang biaya pasien yang sebenarnya diperlukan sebelum hasilnya dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan, namun analisis mereka menunjukkan bahwa dinas terkait dapat melindungi lebih banyak orang dengan harga yang sama dengan menggeser sejumlah dana untuk mendorong vaksinasi anak laki-laki.

Para peneliti menganalogikan, cakupan populasi terendah dalam pemetaan vaksinasi HPV, dalam hal ini adalah jenis kelamin laki-laki, seperti buah yang bergantung rendah. Dalam artian mudah untuk digapai jika dibandingkan dengan populasi dari jenis kelamin perempuan. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, terutama faktor yang berkaitan tentang budaya.

"Tingkat vaksinasi yang stagnan, ditambah dengan oposisi orang tua, menunjukkan bahwa bisa lebih murah untuk meningkatkan cakupan pada anak laki-laki dari, katakanlah, 14 hingga 15 persen daripada meningkatkan cakupan pada anak perempuan dari 37 menjadi 38 persen."

Membuat pertukaran itu akan bermanfaat bagi seluruh populasi, karena meningkatkan cakupan dalam kedua jenis kelamin berarti lebih sedikit orang yang dapat menularkan penyakit ini kepada orang yang tidak terinfeksi.

Sumber:  University of Virginia Health System dan Duke University

Penyakit Tumor dan Keganasan Penyakit Infeksi Riset dan Terobosan


7 Jan 2019 Gakken Editorial