13 Feb 2019 Gakken Editorial

Kaitan Penyakit Jantung Bawaan dengan Diabetes dan Iklim

Congenital Heart Defect (CHD) atau penyakit jantung bawaan adalah penyakit bawaan yang paling umum ditemukan. Bahkan, perawatan kian maju, tetap tidak mematahkan CHD sebagai penyebab utama kematian tidak menular pada bayi. Dalam ulasan komprehensif yang baru-baru ini diterbitkan dalam Birth Defects Research, Vidu Garg, MD, dan Madhumita Basu, PhD, menawarkan untuk melihat dampak diabetes ibu, dan potensi pengaruh gen-lingkungan dalam kondisi tersebut bagi perkembangan jantung janin.

"Banyak studi epidemiologis telah menunjukkan korelasi kuat antara diabetes ibu dan peningkatan risiko CHD pada bayi yang lahir dari ibu yang terkena (diabetes)," kata Dr. Garg, Direktur Pusat Penelitian Kardiovaskular di The Research Institute di Nationwide Children's Hospital.

Sebagai contoh, diabetes tipe 1 dan tipe 2 dihubungkan dengan subtipe CHD spesifik. Bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes tipe 1 memiliki hubungan yang lebih besar dengan malformasi conotruncal dan defek septum atrioventrikular. Mereka yang lahir dari ibu dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko tertinggi heterotoksik dan malformasi obstruksi saluran keluar ventrikel kiri. Kedua jenis diabetes tersebut juga meningkatkan risiko CHD jenis lain pada bayi, termasuk malformasi obstruksi saluran keluar ventrikel kanan dan defek septum atrium dan ventrikel.

Usia kehamilan saat janin terpapar diabetes ibu, juga menjadi hal penting untuk diperhatikan. Diabetes ibu sebelum konsepsi dan selama trimester pertama dikaitkan dengan embriopati diabetik pada janin yang memengaruhi jantung, pembuluh darah besar, dan tabung saraf. Ketika diabetes ibu berkembang pada paruh kedua kehamilan, itu terkait dengan makrosomia janin, kardiomiopati, serta peningkatan insidensi komplikasi perinatal dan mortalitas.

Diabetes adalah penyakit kompleks dengan homeostasis abnormal dari berbagai komponen dalam metabolisme yang pada akhirnya menyebabkan sindrom metabolik secara keseluruhan. Meskipun kompleksitas ini telah menentukan hiperglikemia untuk menjadi teratogen utama dalam semua bentuk diabetes, namun proses tepatnya hiperglikemia ibu menyebabkan cacat lahir pada bayi masih belum diketahui.

"Mekanisme molekuler yang mendasari di mana perubahan kadar glukosa ibu beraksi untuk menyebabkan kelainan jantung bawaan secara aktif sedang diselidiki di laboratorium kami dan yang lainnya," kata Dr. Basu, Asisten Profesor Riset di lab Garg di Pusat Penelitian Kardiovaskular.

"Kami menduga bahwa interaksi gen-lingkungan ini terkait dengan disregulasi proses epigenetik spesifik pada jantung janin," tambah Dr. Basu.

Perubahan Iklim dan CHD

Penelitian baru dalam Journal of American Heart Association mengungkap keterkaitan naiknya suhu yang bersumber dari perubahan iklim global dengan meningkatnya jumlah bayi yang lahir dengan cacat jantung bawaan (CHD) di Amerika Serikat.

"Temuan kami menggarisbawahi dampak mengkhawatirkan dari perubahan iklim pada kesehatan manusia dan menyoroti perlunya peningkatan kesiapsiagaan untuk menghadapi peningkatan yang diantisipasi dalam kondisi kompleks yang sering membutuhkan perawatan seumur hidup dan tindak lanjut," kata penulis studi Shao Lin, MD, Ph .D., MPH, profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat di University of Albany, New York.

"Penting bagi dokter untuk menyarankan ibu hamil dan mereka yang berencana hamil tentang pentingnya menghindari panas yang ekstrem, khususnya 3-8 minggu pasca konsepsi--periode kritis kehamilan."

Penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara paparan panas ibu dan risiko cacat jantung pada anak. Meskipun mekanisme secara rinci belum terlalu pasti, namun studi pada hewan menunjukkan bahwa panas dapat menyebabkan kematian sel janin atau mengganggu beberapa protein peka panas yang memainkan peran penting dalam perkembangan janin, kata para peneliti.

Perkiraan dalam penelitian saat ini didasarkan pada proyeksi jumlah kelahiran antara tahun 2025 dan 2035 di Amerika Serikat dan peningkatan yang diantisipasi dalam paparan panas ibu rata-rata di berbagai wilayah sebagai akibat dari perubahan iklim global.

Dalam analisis mereka, para peneliti menggunakan ramalan perubahan iklim yang diperoleh dari NASA dan Goddard Institute for Space Studies. Mereka meningkatkan resolusi spasial dan temporal dari prakiraan, mensimulasikan perubahan suhu maksimum harian berdasarkan wilayah geografis, dan kemudian menghitung paparan panas ibu yang diantisipasi per wilayah untuk musim semi dan musim panas.

Untuk setiap kehamilan dan daerah, mereka mendefinisikan tiga indikator paparan: 1) hitungan hari yang terlalu panas (EHD) sebagai jumlah hari yang melebihi persentil ke-90 (EHD90) atau ke-95 (EHD95) untuk musim yang sama pada periode baseline di wilayah yang sama; 2) frekuensi peristiwa panas ekstrem (EHE) sebagai jumlah kejadian setidaknya tiga EHD berturut-turut 90 hari atau dua EHD berturut-turut 95 hari; dan 3) durasi EHE sebagai jumlah hari untuk EHE terpanjang dalam periode 42 hari.

Untuk mendapatkan parameter proyeksi beban jantung bawaan (CHD), para peneliti menggunakan data dari studi sebelumnya, yang juga dipimpin oleh Lin, yang mengukur risiko cacat jantung bawaan berdasarkan paparan panas ibu untuk kelahiran yang terjadi antara 1997 dan 2007. peneliti kemudian mengintegrasikan asosiasi CHD panas yang diidentifikasi selama periode baseline dengan proyeksi peningkatan paparan panas ibu selama periode antara 2025 dan 2035 untuk memperkirakan perubahan potensial pada beban PJK.

"Meskipun penelitian ini adalah awal, akan lebih bijaksana bagi ibu hamil di minggu-minggu awal kehamilan untuk menghindari panas yang ekstrem mirip dengan saran yang diberikan kepada orang-orang dengan penyakit jantung dan paru selama masa perawatan jantung," kata Shao Lin, MD, Ph.D., MPH.

Sumber --  DOI: 10.1002/bdr2.1416 dan DOI: 10.1161/JAHA.118.010995

Kehamilan / Obstetri Kesehatan Anak Riset dan Terobosan Genetika


13 Feb 2019 Gakken Editorial