11 Aug 2017 Ridhayani Hatta

Efek Anti-Inflamasi dan Analgesik Bubuk Jahe terhadap Nyeri Pasca Odontektomi

Jahe, rimpang dari Zingiber officinale, telah lama digunakan sebagai obat herbal. Dalam pengobatan tradisional Cina dan India, jahe digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit termasuk sakit perut, diare, mual, asma, gangguan pernafasan, sakit gigi, radang gusi, dan radang sendi.1

Sejumlah penelitian telah menunjukkan minat pada penggunaan jahe untuk pengobatan terhadap kondisi peradangan kronis, salah satunya adalah sakit gigi. Minat ini dapat ditelusuri pada penemuan pada awal 1970-an bahwa obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) memberikan efek dengan menghambat biosintesa prostaglandin (PG). Segera setelah itu, jahe ternyata mengandung unsur penyusun yang juga menghambat sintesis PG. Temuan ini memberikan alasan ilmiah yang masuk akal untuk efek anti-inflamasinya.1

Studi selanjutnya mengungkapkan bahwa beberapa penyusun jahe memiliki sifat farmakologis yang mirip dengan kelas terbaru NSAID yang bekerja ganda. Senyawa pada kelas ini dapat menghambat metabolisme asam arakidonat melalui jalur siklooksigenase (COX) dan lipoxygenase (LOX) dan memiliki efek samping lebih sedikit daripada NSAID konvensional.1,2

Berbagai penelitian hewan menunjukkan bahwa ekstrak jahe atau jahe yang diresepkan secara oral dapat mengurangi peradangan akut.3,4,5,6 Beberapa studi klinis mendukung penggunaan jahe untuk pengobatan osteoartritis, dan dalam beberapa kasus dilaporkan terjadi penurunan nyeri lutut yang signifikan. Dalam beberapa percobaan, ternyata jahe mengurangi rasa sakit dan pembengkakan dengan tingkat yang bervariasi pada pasien dengan osteoarthritis, rheumatoid arthritis, dan nyeri otot tanpa menimbulkan efek samping yang serius bahkan setelah penggunaan yang lama. 1,7,8

Dalam penelitian yang dilakukan Rayati, dkk.9 nyeri pasca odontektomi digunakan karena merupakan jenis nyeri akut yang banyak digunakan, divalidasi, dan sangat standar serta merupakan model yang paling tepat untuk menyelidiki timbulnya aksi analgesik.10 Model ini diterima secara luas dan memiliki catatan sensitivitas pengujian yang terbukti. Oleh karena itu, nyeri gigi pasca odontektomi sering digunakan sebagai model nyeri klinis utama untuk penyelidikan obat analgesik.11

Komplikasi pasca odontektomi yang paling sering terjadi adalah nyeri, tismus dan pembengkakan, di mana COX dan PG berperan penting dalam proses tersebut. Khasiat ibuprofen dalam pengobatan nyeri pasca odontektomi telah ditunjukkan pada beberapa uji klinis. Namun, NSAID dikontraindikasikan pada pasien dengan ulserasi gastrointestinal, gangguan perdarahan, dan disfungsi ginjal.11,12,13,14 Oleh karena itu, diperlukan analgesik yang efektif dengan profil keamanan yang lebih baik.

Dalam penelitian Rayati, dkk.9 mengenai reaksi hambat ganda COX dan LOX dari jahe, peneliti mencoba untuk menilai kemampuan jahe untuk mengendalikan komplikasi pasca operasi dari model nyeri akut ini. Semua pasien mengalami tingkat nyeri terbesar pada hari operasi dengan puncak 4 jam setelah operasi. Pada hari operasi dan hari pasca operasi, jahe sama efektifnya dengan ibuprofen dalam mengurangi intensitas nyeri pasca operasi.9 

Ibuprofen adalah obat yang paling sering digunakan untuk menghilangkan nyeri setelah pembedahan dalam kedokteran gigi. Pada penelitian sebelumnya, ibuprofen tidak lebih tinggi dari plasebo dalam mengurangi pembengkakan pasca operasi tetapi secara signifikan efektif dalam mengurangi rasa sakit pada hari operasi.12 Sementara pada penelitian terbaru, tidak ada perbedaan yang signifikan antara ibuprofen dan jahe dalam mengobati komplikasi pasca operasi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jahe hampir sama efektifnya dengan ibuprofen dalam mengurangi komplikasi pasca odontektomi.9

 

Sumber:
Rayati F, Hajmanouchehri F, Najafi E. Comparison of anti-inflammatory and analgesic effects of ginger powder and ibuprofen in postsurgical pain model: a randomized, double-blind, case–control clinical trial. Dent  Res J. 2017;14(1):1-7.
Referensi:
  1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16117603
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17950516
  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16194058
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16807883
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17923400
  6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19175367
  7. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14609531
  8. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10607493
  9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5356382/
  10. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19020157
  11. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19252905
  12. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19168326
  13. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15336468
  14. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15922815

Tips Kesehatan Gigi dan Mulut Berita Riset dan Terobosan


11 Aug 2017 Ridhayani Hatta