16 Apr 2018 Gakken Editorial

Diagnosis Digital, Ketika Pasien Mencoba Mendiagnosis Penyakitnya Sendiri

Di era serba cepat dan modern, akses untuk mendapatkan informasi menjadi sangat mudah dan seperti tanpa batas membuat masyarakat bisa dengan gampang mendapatkan informasi mengenai penyakit lalu mendiagnosis penyakit yang diderita melalui gejala yang dialaminya. Hal ini bukanlah suatu hal yang mengejutkan. Saat ini ada banyak masyarakat merasa bisa mengobati dirinya sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan melalui mesin pencari, sehingga tidak jarang hal seperti ini menyesatkan dan menjatuhkan pasien pada kondisi yang lebih serius dan fatal.

Sebelum menentukan diagnosis penyakit apa yang derita oleh seorang pasien, seorang dokter setidaknya harus melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, dan juga melakukan Pemeriksaan Penunjang (pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan foto rontgen, pemeriksaan USG (ultra sonografi), pemeriksaan CT Scan, pemeriksaan MRI) yang sesuai dengan disiplin ilmu kedokteran. Menegakkan diagnosis terhadap diri sendiri berdasarkan petunjuk yang didapatkan melalui internet tanpa bertanya atau berkonsultasi kepada dokter ahlinya tentu adalah hal yang salah. Tidak heran saat ini mulai banyak dokter yang waspada terhadap "diagnosa digital" ini dan mulai mempertanyakan seberapa efektif mereka.

Dalam beberapa hal, kemudahan mengakses informasi adalah hal yang baik jika hal ini dikolaborasikan oleh pasien dengan dokternya dan para perawat. Masalah utama dalam "diagnosis digital" ini adalah, gejala yang yang dimasukkan dalam mesin pencarian adalah gejala yang bersifat umum dan keluhan yang kurang jelas. Beberapa gejala yang paling sering dicari adalah batuk, mual, muntah, demam tinggi, diare dan sakit kepala.

Ketika para peneliti melakukan penelitian terhadap hal ini pada tahun 2015, mereka menemukan bahwa hampir 51% akurat. Dr. Ateev Mehrotra, profesor kedokteran di Harvard Medical School dan koleganya mengumpulkan sebanyak 45 studi kasus yang digunakan dokter untuk melakukan penelusuran terhadap mahasiswa kedokteran dan residen dalam melakukan diagnosis dan memasukkan mereka melalui 23 pemeriksaan gejala online yang berbeda di seluruh dunia.

Hasilnya, hanya sekitar separuh waktu alat diagnosa online yang muncul dengan diagnosis yang benar sebagai salah satu dari tiga kemungkinan teratas berdasarkan gejala yang dicari orang, dalam hal apakah pemeriksaan gejala benar sehingga dapat membuat orang tidak langsung menemui dokter dan mencari pengobatan karena merasa penyakit yang dideritanya tidak terlalu serius atau perlu ke dokter segera. Dalam hal ini hasil presentasenya lebih baik dan sesuai dengan pendapat para dokter, yakni 57%.

Dr. Ateev Mehrotra berpendapat bahwa melakukan pemeriksaan secara online sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya membuang-buang waktu, hal tersebut bisa menjadi masukan agar masyarakat mendapatkan informasi awal sebelum ke dokter untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan mereka yang lebih dalam.

The American Academy of Family Physicians menyediakan sebuah situs yang bisa digunakan untuk memeriksa gejala sendiri, familydoctor.org, di mana orang-orang dapat meng-klik gejala umum, menjawab pertanyaan tambahan yang biasa ditanyakan oleh dokter saat melakukan pemeriksaan dan mendeskripsikan keluhan mengenai kesehatan mereka. Hal ini tentu sangat membantu, akan tetapi situs-situs seperti ini tetap bukan menjadi pengganti untuk tidak menemui dokter.

Manfaat lain yang bisa didapatkan adalah pasien sudah memiliki gagasan tentang apa yang mungkin salah dengan mereka dan dapat meneliti kondisi-kondisi tersebut agar ada lebih banyak pertanyaan langsung yang siap ditanyakan ketika melakukan kunjungan dokter mereka. Sangat menghemat waktu, utamanya jika seorang dokter harus menangani banyak pasien.

Sumber: times.com

Tips Kesehatan


16 Apr 2018 Gakken Editorial