13 Feb 2017 dr. Triana Istiqlal

Arsenik pada Beras. Haruskah Kita Khawatir?

Arsenik adalah komponen alami dari kerak bumi dan terdistribusi secara luas di lingkungan dalam udara, air dan tanah, dan sangat beracun dalam bentuk anorganik.1 Terdapat banyak bahan pangan yang mengandung arsenik melalui penyerapan dari tanah dan air. Beras secara khusus dapat mengambil arsenik anorganik lebih banyak daripada pangan lain karena penyerapannya yang lebih tinggi. Paparan jangka panjang terhadap arsenik anorganik dapat menyebabkan keracunan kronis, di mana lesi kulit dan kanker kulit merupakan efek yang paling banyak muncul.

Pada tahun 2015/2016, konsumsi beras di seluruh dunia mencapai 478,441 juta metrik ton.2 Di Indonesia, konsumsi beras per kapita mencapai 98 kilogram per tahun per Maret 2015.3 Dengan nasi sebagai makanan pokok utama, haruskah kita khawatir mengenai dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh beras yang mengandung arsenik?

Pada November 2012, Consumer Reports melakukan uji coba terhadap kadar arsenik di dalam beras yang beredar di Amerika Serikat dan menemukan kadar arsenik anorganik yang signifikan pada hampir semua kategori produk, dan juga arsenik organik yang kurang beracun bila dibandingkan dengan arsenik anorganik namun masih patut dikhawatirkan. Arsenik masuk ke dalam rantai makanan melalui pangan yang menyerap air irigasi yang terkontaminasi. Mereka melakukan uji terhadap 223 sampel produk beras, termasuk sereal bayi, sereal panas, sereal siap saji, kue beras, dan kerupuk beras. Mereka juga menguji produk seperti pasta beras, tepung beras, dan minuman beras. Walau arsenik anorganik dianggap sebagai yang paling beracun, namun terdapat kekhawatiran terhadap kedua jenis arsenik untuk menjadi potensi karsinogenik terhadap manusia. Mereka juga menemukan bahwa kadar arsenik anorganik pada beras coklat lebih tinggi dibandingkan beras putih pada setiap merek beras yang sama, pada semua merek.

Hal ini dianggap tidak mengherankan, jika dilihat dari proses polishing pada beras. Walaupun beras coklat memiliki keuntungan gizi yang lebih besar dari beras putih, namun ia memiliki kadar arsenik yang lebih besar, karena arsenik berkonsentrasi pada lapisan luar dari biji-bijian. Proses polishing beras untuk beras putih dilakukan dengan menghilangkan lapisan-lapisan permukaan, dan ini membantu untuk mengurangi total arsenik dan arsenik anorganik dalam gandum.4

Arsenik masuk ke dalam rantai makanan melalui pangan yang menyerap air irigasi yang terkontaminasi. Jutaan sumur tabung dangkal yang telah terpasang di seluruh Asia selama tiga dekade terakhir memompa air dari air tanah dangkal yang terkontaminasi. Kontaminasi banyak berasal dari sedimen yang kaya arsenik dari sungai-sungai seperti sungai Gangga dan Brahmaputra, sungai yang berjalan sepanjang Cina, India, dan Bangladesh. Ia mengalir ke dalam air tanah yang dipompa ke permukaan melalui jutaan sumur tabung. Bangladesh adalah negara dengan persentase sumur tabung dangkal terkontaminasi yang tertinggi. Diperkirakan bahwa pemompaan air dari sumber air dangkal untuk irigasi menambahkan satu juta kilogram arsenik per tahun untuk tanah garapan di Bangladesh, terutama di sawah. Nasi adalah makanan pokok di Bangladesh dan dikonsumsi dalam jumlah besar.5

Pada uji yang dilakukan oleh Consumer Report, sampel yang diteliti adalah beras yang juga termasuk beras dari California, India, dan Thailand. Beras Indonesia bukan merupakan beras yang sering diekspor ke Amerika, dan oleh karena itu, beras yang berasal dari Indonesia tidak diuji. Indonesia sendiri telah mengimpor beras dari beberapa negara, termasuk Thailand, menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2000-2014.6 Beras Indonesia bukan merupakan beras yang sering diekspor ke Amerika, dan oleh karena itu, beras yang berasal dari Indonesia tidak diuji. Indonesia sendiri telah mengimpor beras dari beberapa negara, termasuk Thailand, menurut data dari Badan Pusat Statistik tahun 2000-2014. Arsenik tidak hanya terdapat pada beras saja, namun juga pada air dan berbagai jenis bahan pangan. Kontaminasi arsenik terjadi secara natural dengan kadar yang sangat rendah pada banyak jenis makanan dan tidaklah mungkin untuk menghindarinya secara total. Pada suatu penelitian di Bangladesh yang dilakukan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dan Cornell University menunjukkan bahwa menanam padi sekitar 15 sentimeter di atas permukaan tanah, bukan di genangan air seperti cara konvensional dapat menetralkan jumlah kehilangan panen dan juga mengakibatkan kadar arsenik yang rendah pada tanaman dan tanah. Dengan sistem seperti ini, dapat mengurangi paparan terhadap irigasi air terkontaminasi 30 sampai 40 persen dari jumlah normal.7

Pada level rumah tangga, memasak nasi dengan jumlah air yang banyak juga membantu untuk menghilangkan arsenik anorganik. Sebagai opsi lain, perubahan pola makan dan pengurangan konsumsi nasi juga disarankan. Terdapat banyak jenis alternatif makanan pokok lain selain nasi yang juga bebas dari gluten, terutama alternatif makanan bayi selain bubur nasi. Pada level rumah tangga, memasak nasi dengan jumlah air yang banyak juga membantu untuk menghilangkan arsenik anorganik. Berdasarkan dari hasil penemuan, Consumer Reports merekomendasikan orang dewasa untuk mengonsumsi tidak lebih dari dua sampai tiga kali konsumsi produk nasi dalam seminggu. Anak-anak, yang lebih rentan terhadap toksisitas arsenik karena ukuran tubuh yang lebih kecil, disarankan untuk hanya mengonsumsi satu sampai 1,5 porsi dalam seminggu, dan tidak mengonsumsi susu beras sebagai bagian dari diet mereka sebelum berusia lima tahun.

Referensi:
  1. World Health Organization. (2016). Arsenic Fact Sheets. [online] Available at: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs372/en/ [Accessed 13 Feb. 2017].
  2. (2016). Total global rice consumption 2016 | Statistic. [online] Available at: https://www.statista.com/statistics/255977/total-global-rice-consumption/ [Accessed 13 Feb. 2017].
  3. katadata.co.id. (2015). Konsumsi Beras Perkapita Indonesia 98 Kg/Tahun - Databoks. [online] Available at: http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/29/konsumsi-beras-perkapita-indonesia-98-kgtahun [Accessed 13 Feb. 2017].
  4. org. (2012). Arsenic In Your Food Investigated - Consumer Reports. [online] Available at: http://www.consumerreports.org/cro/magazine/2012/11/arsenic-in-your-food/index.htm#chart [Accessed 13 Feb. 2017].
  5. org. (2007). Arsenic threat in rice. [online] Available at: http://www.fao.org/newsroom/EN/news/2007/1000734/index.html [Accessed 13 Feb. 2017].
  6. go.id. (2017). Badan Pusat Statistik. [online] Available at: https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1043 [Accessed 13 Feb. 2017].
  7. Remediation of Arsenic for Agriculture, Sustainability, Food Security and Health in Bangladesh. (2007). 1st ed. [ebook] Rome: FAO. Available at: http://www.fao.org/nr/water/docs/FAOWATER_ARSENIC.pdf [Accessed 13 Feb. 2017].

Berita Gizi


13 Feb 2017 dr. Triana Istiqlal