18 Aug 2017 Ridhayani Hatta

Aktivitas Antibakteri Sealer yang Digunakan pada Perawatan Saluran Akar

Tujuan akhir dari perawatan saluran akar adalah eliminasi atau pengurangan mikroorganisme di saluran akar gigi. Mikroorganisme umumnya tetap utuh di bagian saluran akar yang tidak dapat diakses setelah pembersihan mekanis dan kimia. Selain itu, Enterococcus faecalis dengan tingkat kejadian 22-77% diketahui resisten terhadap pengobatan dan menjadi penyebab paling umum terhadap kegagalan perawatan saluran akar.1 E. faecalis dapat menembus tubulus dentin, bertahan dalam pH tinggi, dan tahan lapar, yang menyebabkan infeksi sekunder.2,3

Penggunaan sealer saluran akar bertujuan untuk mengurangi sisa mikroorganisme di saluran akar karena efek antibakteri yang dimiliki.4 Sealer yang paling terkenal adalah sealer berbasis seng oksida (Tg-sealer), sealer berbasis kalsium hidroksida (Apexit), ionomer kaca (Ketac-endo), resin (AH26), sealer silikon (RoekoSeal), dan sealer yang mengandung bahan farmasi (Endometason).5 Dalam beberapa tahun terakhir, sealer yang mengandung mineral trioxide agregat (MTA Fillapex) juga telah diperkenalkan dalam kedokteran gigi.6 Salah satu langkah penting dalam terapi saluran akar adalah memilih sealer antibakteri.

Ahangari, dkk.7 mengevaluasi aktivitas antibakteri AH26, Dorifill, dan Apexit pada mikroorganisme Peptostreptococcus menggunakan tes difusi agar (ADT) dalam kondisi in vitro. Berdasarkan hasil studi tersebut, baik AH26 dan Dorifill memiliki aktivitas antibakteri yang lebih tinggi tanpa perbedaan yang signifikan, dan Apexit menunjukkan aktivitas antibakteri terendah. 7

Morgental, dkk.6 mengevaluasi aktivitas antibakteri sealer menggunakan tes kontak langsung (DCT) dan tes difusi agar (ADT). ADT digunakan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri sealer nonset (bahan yang dapat larut), dan DCT digunakan pada bahan yang tidak dapat larut (setelah bahan setting). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada ADT, zona penghambatan pertumbuhan hanya terlihat pada MTA Fillapex dan Endofill. Pada ADT, Endometason menunjukkan tingkat aktivitas antibakteri yang lebih tinggi diikuti oleh AH-26, Tg-sealer. Sealer RoekoSeal dan MTA Fillapex tidak menunjukkan aktivitas antibakteri. Namun, berdasarkan pada DCT, sealer MTA Fillapex menyajikan aktivitas antibakteri tertinggi yang diikuti oleh AH-26, Tg-sealer, Endometason, RoekoSeal pada 6 dan 15 menit pertama; Tg-sealer, Endometason, AH-26, RoekoSeal setelah 60 menit. Hasi ini menunjukkan bahwa, tes yang berbeda mengevaluasi sifat komponen antibakteri yang berbeda.6

Hasil ADT menunjukkan bahwa sealer Endometason memiliki tingkat aktivitas antibakteri yang lebih tinggi terhadap E. faecalis. Alasan untuk ini dapat dikaitkan dengan adanya komponen seperti paraformaldehida, timol iodida, dan seng oksida dalam struktur sealer ini.8 Sealer AH-26 menempati urutan kedua dalam hal aktivitas antibakteri, yang mungkin karena pelepasan paraformaldehida dari sealer selama 48 jam pertama serta adanya komponen antibakteri pada epoksi resin, yang tetap berada dalam komposisi sealer bahkan setelah 2 minggu.5,9,10 Tg-sealer, yang menempati peringkat ketiga dalam hal aktivitas antibakteri, termasuk sebagai sealer berbasis seng (Zn). Aktivitas antibakterinya mungkin karena adanya seng oksida dan timol iodida.7

Temuan yang menunjukkan bahwa sealer RoekoSeal dan MTA Fillapex tidak menunjukkan aktivitas penghambatan pada bakteri E. Faecalis, dapat dikaitkan dengan tidak adanya kemampuan medium dan permeasi yang tepat dari sealers ini.11 Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Yasuda dkk.12, namun berbeda dengan hasil Morgental dkk.6 RoekoSeal dan MTA Fillapex setting lebih cepat daripada sealers lainnya. Oleh karena itu, nampaknya setting time adalah salah satu faktor yang mempengaruhi permeabilitas sealer dan juga aktivitas antibakterinya.

Sealer RoekoSeal menunjukkan aktivitas antibakteri paling rendah terhadap E. faecalis. Namun secara signifikan sealer ini dapat mencegah pertumbuhan bakteri selama pengamatan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa sealer ini setidaknya tidak menyebabkan pertumbuhan bakteri dalam medium.13

Perlu dicatat bahwa sealer dapat memberikan aktivitas antibakteri yang berbeda dalam keadaan yang baru dicampurkan dan dalam keadaan setting (seperti MTA Fillapex). Harus dipertimbangkan bahwa dalam memilih sealers selain efek antibakterinya, biokompatibilitas juga menjadi hal yang penting.

 

Sumber:
Hasheminia M, Razavian H, Mosleh H, Shakerian B. In vitro evaluation of the antibacterial activity of five sealers used in root canal therapy. Dent Res J. 2017;14(1):62-7.
Referensi:
  1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14716262
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12656508
  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15107642
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11346739
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10332242
  6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21895702
  7. http://jds.sbmu.ac.ir/browse.php?a_code=A-10-1-799&slc_lang=en&sid=1
  8. http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1601-1546.2005.00198.x/abstract
  9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10468467
  10. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15479256
  11. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15946270
  12. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18818467
  13. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/13513298

Gigi dan Mulut Berita


18 Aug 2017 Ridhayani Hatta