12 Feb 2019 Gakken Editorial

4 Karakteristik Penanda Depresi Postpartum

Empat karakteristik menawarkan cara untuk memprediksi depresi pada perempuan, serta tingkat gejalanya selama tahun pertama setelah melahirkan.

Studi longitudinal melihat data yang dikumpulkan antara 2006 dan 2011 perempuan yang melahirkan di pusat medis akademik di Pittsburgh, Pennsylvania. Perempuan dengan gangguan depresi postpartum berpartisipasi dan menyelesaikan penilaian keparahan gejala pada 4-8 minggu (asupan), 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan postpartum. Dokter mewawancarai para perempuan tentang keparahan gejala depresi mereka, riwayat medis dan kejiwaan, fungsi, pengalaman kebidanan, dan status bayi.

Para ilmuwan menentukan skor seorang perempuan berdasarkan pada empat karakteristik, menggunakan algoritma komputasi yang memprediksi lintasan depresinya, dan memberikan kemungkinan kelompok mana perempuan itu akan berada. Prediksi dari studi ini adalah 72,8 persen akurat.

Keempat karakteristik tersebut adalah Jumlah anak; Kemampuan berfungsi dalam kehidupan umum, di tempat kerja, dan dalam hubungan; Tingkat pendidikan--yang dapat menentukan akses ke sumber daya; dan tingkat depresi pada empat hingga delapan minggu pascapersalinan.

“Pada saat seorang ibu datang untuk kunjungan enam minggu pascapersalinan, kami mendapat potensi untuk memprediksi keparahan depresinya selama 12 bulan ke depan,” kata Sheehan Fisher, asisten profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Northwestern University Feinberg Medical School.

Mengidentifikasi faktor-faktor ini di awal periode postpartum akan memungkinkan ibu untuk mencari pengobatan lebih awal dan meningkatkan peluang mereka untuk pemulihan penuh.

Seorang ibu dengan depresi setelah persalinan dapat berada dalam salah satu dari tiga lintasan depresi: remisi bertahap (seiring waktu dia mulai menjadi lebih baik); perbaikan parsial (pada 12 bulan postpartum, ia menuju ke arah yang positif tetapi terus memiliki gejala); dan kronis parah (gejalanya mulai pada tingkat yang sama dengan tingkat kedua, tetapi memburuk dari waktu ke waktu).

"Ini bukan hanya pertanyaan tentang 'Apakah sang ibu merasa tertekan?' Melainkan, 'Sejauh apa tingkat depresinya?'" Kata Fisher, "Jika gejala depresinya semakin memburuk dari waktu ke waktu, ia harus proaktif menjalani pengobatan."

Fisher berharap temuan ini akan mengarah kepada peningkatan langkah perawatan bagi ibu di ketiga lintasan depresi. Hal tersebut berarti penyedia layanan kesehatan dapat menyesuaikan tingkat perawatan untuk setiap perempuan.

Gejala dan perawatan postpartum

Ibu dengan depresi postpartum biasanya mengalami kesulitan tidur, perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan, sulit mengatasi emosi negatif, memiliki ketidakmampuan untuk fokus atau berkonsentrasi, dan umumnya merasakan banyak tekanan emosional.

Depresi pascapersalinan tidak hanya memengaruhi ibu tetapi juga dapat memengaruhi fungsi dan kesehatan anaknya secara negatif. Ini dapat memengaruhi perkembangan emosi anak dan kemampuan untuk mengatur emosi mereka sendiri dan memberi risiko lebih tinggi untuk kecemasan dan depresi.

Semakin lama depresi seorang perempuan tidak diobati, semakin sulit baginya untuk kembali ke jalurnya, kata Fisher. Mungkin perlu beberapa saat untuk menemukan obat yang tepat dan mendapatkan akses ke penyedia yang tepat.

"Itu hanya mempersulit jika ibu tidak memulai perawatannya sampai waktu mendatang," kata Fisher.

Perawatan untuk perempuan dalam kelompok kronis berbeda berdasarkan pada individu. Dokter mungkin meminta bantuan ayah atau anggota keluarga lain untuk mencari perawatan tingkat tinggi seperti perawatan rawat jalan intensif untuk ibu.

Rasa nyeri setelah persalinan

Rasa sakit saat melahirkan juga dikaitkan dengan depresi postpartum. Simpulan dari penelitian baru yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan Anesthesiology, tahun lalu.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan rasa sakit yang terkait dengan melahirkan dapat meningkatkan risiko depresi pascapersalinan, tetapi belum menentukan bagian mana dari proses persalinan tersebut yang mungkin menjadi sumber masalah. Ini adalah studi pertama yang membedakan nyeri postpartum dari nyeri persalinan/melahirkan dan mengidentifikasinya sebagai faktor risiko signifikan untuk depresi postpartum.

"Selama bertahun-tahun, kami telah khawatir tentang bagaimana menangani nyeri persalinan, tetapi nyeri pemulihan setelah persalinan dan melahirkan sering diabaikan," kata Jie Zhou, MD, MBA, penulis utama studi dan asisten profesor anestesi di Brigham and Women's.

Dalam penelitian tersebut, kelompok peneliti Dr. Zhou meninjau skor nyeri (dari awal persalinan hingga keluar rumah sakit) untuk 4.327 ibu pertama yang melahirkan anak tunggal melalui persalinan sesar di Rumah Sakit Brigham and Women's antara 1 Juni 2015 hingga 31 Desember 2017. Mereka membandingkan skor nyeri dengan skor skala postnatal Edinburgh (EPDS) ibu-ibu satu minggu setelah melahirkan.

Zhou menemukan bahwa depresi pascapersalinan secara signifikan terkait dengan skor nyeri pascapersalinan yang lebih tinggi. Ibu dengan depresi pascapersalinan menunjukkan lebih banyak keluhan yang berhubungan dengan nyeri selama pemulihan dan seringkali membutuhkan obat nyeri tambahan. Perempuan dalam kelompok depresi pascapersalinan lebih cenderung melahirkan melalui operasi caesar. Mereka juga memiliki lebih banyak laporan tentang kontrol nyeri postpartum yang tidak memadai.

Sejumlah faktor dapat berkontribusi pada depresi pascapersalinan. Peneliti menentukan depresi pascapersalinan lebih tinggi di antara perempuan yang kelebihan berat badan atau obesitas; yang menderita robekan perineum (area yang berdekatan dengan lubang vagina); yang memiliki riwayat depresi, kegelisahan, atau sakit kronis; dan yang bayinya lebih kecil dan memiliki skor Apgar yang lebih rendah--sistem penilaian yang digunakan untuk menilai kesehatan fisik bayi yang baru lahir satu menit dan lima menit setelah lahir.

"Sementara ibuprofen dan obat-obatan nyeri serupa dianggap cukup untuk mengendalikan rasa sakit setelah melahirkan, jelas beberapa perempuan membutuhkan bantuan tambahan untuk mengelola rasa sakit," kata Dr. Zhou. "Kita perlu melakukan pekerjaan yang lebih baik mengidentifikasi siapa yang berisiko mengalami nyeri pascapersalinan dan memastikan mereka memiliki perawatan pascapersalinan yang memadai."

Sumber --  DOI: 10.1002/da.22879 dan American Society of Anesthesiologists

Kehamilan / Obstetri Kesehatan Anak Berita Riset dan Terobosan


12 Feb 2019 Gakken Editorial